TUHAN BUKAN TUKANG JAM

Gideon mengalami ‘mental distortion’ yang cukup parah. Gara gara kesulitan hidup yang berlarut larut, citra dirinya jadi carut marut. Hidup susah, sering pindah pindah, tiap hari berhadapan dengan musibah. Dalam keadaan putus harapan, Gideon bertanya dimana semua pertolongan Allah, kemana larinya semua cerita keajaiban?” Seolah ia sedang berkata “God is silence, He is dead”. Mengapa Allah diam, mungkin Allah sudah mati.

Gideon salah menilai. Dia pikir Allah itu seperti tukang jam. Setelah menciptakan dunia kemudian membiarkannya. Akibat salah konsep, ia menderita rasa takut yang akut. Saat kecemasan dibiarkan terlalu lama, pikiran akan menderita. Sebentar lagi lahir ‘cara pandang’ yang negatif terhadap kenyataan. Kualitas hidup ditentukan oleh kualitas iman dan harapan. Gagal berharap berakibat gagal bahagia.

Baca firman dan yakini kebenaran. Mana mungkin Allah berlaku seperti pembuat jam tangan? Diciptakan kemudian dibiarkan berputar sendiri. Setelah Ia menciptakan manusia, Ia berusaha menyertai Adam dan Hawa. Saat manusia jatuh dalam dosa dan menyadari ketelanjangannya, Allah membuat pakaian dari kulit domba. Demi menolong umat manusia, Ia rela turun ke dunia menjadi manusia, mati disalib dan berjanji untuk membawa kita kembali ke rumah-Nya.

Allah bukan tukang jam, tetapi Bapa yang maha baik. Ia berjanji menyertai kita dalam segala pancaroba. Ia memberikan kuasa darah-Nya untuk melawan si jahat dan segala kelemahan. Ia mengirim Roh Kudusnya untuk menjadi pendamping supaya tidak salah membuat keputusan. Hadirat-Nya selalu tersedia bagi kita semua. Fakta bahwa hidup penuh dengan tantangan, tidak pernah mengubah kasih dan perhatian-Nya bagi kita semua. Berserahlah dan hidup dalam anugerah. Amen

TIGA KALI BERCERAI

Secara tidak sengaja aku bertemu dengan Robert. Kami makan ‘King Burger’ satu meja di Hong Kong Airport. Tanpa menunggu lama kami berdua terlibat percakapan antar pria. Sambil bercerita, pria asal New York ini langsung curhat masalah pergumulan hidupnya.

Ia terbang 24 jam dari New York menuju kota Manila demi satu wanita. Robert ingin segera menemui Lydia, wanita yang digadang gadang akan menjadi teman hidupnya. Dari mana ia bisa mengenal Lydia? Dari mata turun ke hati, berawal dari facebook turun ke lubuk hatinya. Robert sudah berumur 55 tahun dan masih berburu teman hidup lantaran tiga kali pernikahannya kandas dalam perceraian. Maka akupun to the point “what made you divore three times”. Jawabannya bikin telingaku merah “all my wives did not understand me, I am an artist, I live my feeling”. Inilah biangnya perceraian.

Kehidupan pernikahan tidak bisa disetir oleh perasaan atau penglihatan. Cinta itu keputusan kehendak, bukan feeling. Jika pernikahan dikendalikan oleh perasaan, hancurlah hubungan saat ‘bad mood’ datang. Akupun bilang pada Robert, ‘jika Anda masih salah paham tentang cinta, pernikahan Anda yang ke seratus juga akan berakhir dalam perpisahan.

Cinta adalah pilihan kehendak yang melibatkan komitmen ‘walaupun’. Walaupun kamu sudah menyakitkan aku, cintaku tetap untukmu, meskipun engkau sudah keriput dan botak, aku tetap menyayangimu”.

Benarlah kata seorang pakar, kehancuran pernikahan bukan karena masalah duit, pihak ketiga, seks atau masalah iman. Kebanyakan pernikahan berakhir dengan perceraian karena kurangnya pengetahuan. Lack of knowlede itulah biangnya kehancuran. Untuk itu setiap pasangan harus selalu mengasah pemahaman, mendalami pengetahuan tentang cinta dan pernikahan. Dalam hal ini gereja yang paling bertanggung jawab dalam memperlengkapi dan mempersiapan pasangan pasangan muda menuju pernikahan yang diberkati.

DIMANFAATKAN DAN MEMANFAATKAN

Dua kata yang dasarnya sama ‘manfaat’, ketika motivasi berbeda bunyinya ikut beda akhirnya. Orang yang senang mendapatkan keuntungan melalui hubungan, tidak segan segan memanfaatkan orang untuk kepentingan. Mirip sekali dengan Yudas Iskariot, motivasi utama mengikut Yesus adalah mendapatkan akses. Dan ketika tahu harapan tidak akan menjadi menyataan, Yudas menjual Yesus dengan 30 keping perak. Yudas tidak mau rugi sama sekali.


Orang yang gemar memanfaatkan biasanya bermuka dua. Di depan terlihat senyum dan bersahabat. Di belakang mulai hitung hitungan. Apa yang saya dapatkan dari dia dan sampai kapan saya masih bisa punya akses untuk mengeruk keuntungan. Ketika batang tebu sudah tidak bisa diperas, akan segera dibuang. Demikian juga saat orang yang tidak bisa dimanfaatkan akan segera ditinggalkan lalu segera mencari mangsa yang berikutnya.


Lalu bagaimana bersikap saat mengetahui ada orang yang sedang memanfaatkan kita? Pertama, bersyukurlah kepada Allah, karena masih bisa bermanfaat. Artinya masih bisa menolong orang untuk mencapai tujuannya. Entah dia sadar atau tidak, yang jelas kita masih ‘berguna’ bagi orang itu.

Kedua, sadarilah bahwa kita juga pernah ditolong oleh orang lain. Karena tidak ada sukses yang diraih sendirian. Ingat baik baik, Tuhan telah memgirim orang untuk menolong kita meraih cita cita dan rencana-Nya. Untuk itu jangan pernah melupakan jasa dan kebaikan mereka.

Ketiga, jika orang itu kemudian ‘menjual’ anda karena seperti Yudas, besikaplah seperti Yesus. “Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Namun jangan segan segan menegurnya karena sikap memanfaatkan bisa berusak persahabatan dan merusak karir serta pelayanan. Jangan sampaj akhir hidupnya penuh penyesalan seperti Yudas Iskariot.


Pdt Jack Hannes pernah menasehati saya. “Jaga hati Paulus, ada orang yang senyum didepan Anda kemudian berbalik dan menertawakan Anda karena sudah mendapatkan yang diinginkannya”.

Berbahagialah yang masih bisa bermanfaat bagi orang lain. Celakalah orang yang sering memanfaatkan orang dan tidak pernah menghargai peran orang lain. Perhatikanlah, sikap hidup menentukan pencapaian hidup. Sikap yang buruk bisa menjadi musuh kehidupan. Belajarlah menjadai orang yang bermanfaat dan jangan suka memanfaatkan. Selamat melaksanakan.

http://www.mercypeduli.com