MENGAPA AKU TIDAK MENGALAMI MUJIZAT

Manusia tidak bisa menciptakan mujizat. Hanya Allah yang sanggup melakukannya. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah menciptakan atmosfir yang memungkinkan mujizat terjadi dalam kehidupan. Menurut kisah dan ajaran kitab suci serta pengalaman pribadi, mujizat sering terjadi dalam suasana iman.

Mengapa Yesus tidak melakukan banyak mujizat di kampunya sendiri? Karena di sana ada penolakan. Mereka memandang Yesus hanyalah anak tukang kayu yang biasa dan tidak ada yang istimewa dalam kehidupanya.

“Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.


Keajaiban jarang terjadi pada mereka yang menolak “sumber keajaiban”. Yesus dikenal sebagai ‘miracle worker’. Satu satunya nabi yang punya track record paling banyak melakukan tanda tanda ajaib. Namun sayang banyak yang menolaknya. Di dalam penolakan selalu ada distrust. Mujizat Allah sering dimulai dengan iman dan tindakan yang menyertainya.


Masih ingat wanita yang menderita pendarahan 12 tahun? Setelah berobat ke berbagai tabib dan gagal, akhirnya ia beriman kepada Yesus dan berkata “Asal kujamah ujung jubahnya aku akan sembuh’. Haleluyah. Imannya menjadi kenyataan. Saat ia menjamah ujung jubahnya, seketika itu juga pendarahnya langsung berhenti. Iman adalah lahan yang paling subur untuk munculnya keajaiban demi keajaiban.


Dua tahun ini aku beriman supaya bisa menolong hamba hamba Tuhan yang sedang bergumul untuk membangun gereja. Hati ini selalu menangis saat melihat bangunan gereja dari bambu, bebak atau bahkan ilalang. Dengan iman kami Yayasan Mercy Indonesia mulai bertindak menggalang dana. Puji Tuhan, mujizat demi mujizatpun terjadi. Tanpa kusadari ternyata sudah ada 44 gereja yang dibangun, meski hanya dengan batako, namun jauh lebuh layak daripada bambu dan ilalang.


Dengan iman pula kami bisa menyantuni 12 panti asuhan, 13 guru Paud dan ratusan hamba hamba Tuhan pedesaan yang memerlukan dukungan. Dengan iman kaki bisa memikiki 54 jaringan stasiun radio di seluruh Indonesia. Dengan iman, pelayanan ini masih jalan di tengah pandemi. Makanya jangan pernah menyepelekan peran iman dalam kehidupan.

TUHAN BUKAN TUKANG JAM

Gideon mengalami ‘mental distortion’ yang cukup parah. Gara gara kesulitan hidup yang berlarut larut, citra dirinya jadi carut marut. Hidup susah, sering pindah pindah, tiap hari berhadapan dengan musibah. Dalam keadaan putus harapan, Gideon bertanya dimana semua pertolongan Allah, kemana larinya semua cerita keajaiban?” Seolah ia sedang berkata “God is silence, He is dead”. Mengapa Allah diam, mungkin Allah sudah mati.

Gideon salah menilai. Dia pikir Allah itu seperti tukang jam. Setelah menciptakan dunia kemudian membiarkannya. Akibat salah konsep, ia menderita rasa takut yang akut. Saat kecemasan dibiarkan terlalu lama, pikiran akan menderita. Sebentar lagi lahir ‘cara pandang’ yang negatif terhadap kenyataan. Kualitas hidup ditentukan oleh kualitas iman dan harapan. Gagal berharap berakibat gagal bahagia.

Baca firman dan yakini kebenaran. Mana mungkin Allah berlaku seperti pembuat jam tangan? Diciptakan kemudian dibiarkan berputar sendiri. Setelah Ia menciptakan manusia, Ia berusaha menyertai Adam dan Hawa. Saat manusia jatuh dalam dosa dan menyadari ketelanjangannya, Allah membuat pakaian dari kulit domba. Demi menolong umat manusia, Ia rela turun ke dunia menjadi manusia, mati disalib dan berjanji untuk membawa kita kembali ke rumah-Nya.

Allah bukan tukang jam, tetapi Bapa yang maha baik. Ia berjanji menyertai kita dalam segala pancaroba. Ia memberikan kuasa darah-Nya untuk melawan si jahat dan segala kelemahan. Ia mengirim Roh Kudusnya untuk menjadi pendamping supaya tidak salah membuat keputusan. Hadirat-Nya selalu tersedia bagi kita semua. Fakta bahwa hidup penuh dengan tantangan, tidak pernah mengubah kasih dan perhatian-Nya bagi kita semua. Berserahlah dan hidup dalam anugerah. Amen

DIMANFAATKAN DAN MEMANFAATKAN

Dua kata yang dasarnya sama ‘manfaat’, ketika motivasi berbeda bunyinya ikut beda akhirnya. Orang yang senang mendapatkan keuntungan melalui hubungan, tidak segan segan memanfaatkan orang untuk kepentingan. Mirip sekali dengan Yudas Iskariot, motivasi utama mengikut Yesus adalah mendapatkan akses. Dan ketika tahu harapan tidak akan menjadi menyataan, Yudas menjual Yesus dengan 30 keping perak. Yudas tidak mau rugi sama sekali.


Orang yang gemar memanfaatkan biasanya bermuka dua. Di depan terlihat senyum dan bersahabat. Di belakang mulai hitung hitungan. Apa yang saya dapatkan dari dia dan sampai kapan saya masih bisa punya akses untuk mengeruk keuntungan. Ketika batang tebu sudah tidak bisa diperas, akan segera dibuang. Demikian juga saat orang yang tidak bisa dimanfaatkan akan segera ditinggalkan lalu segera mencari mangsa yang berikutnya.


Lalu bagaimana bersikap saat mengetahui ada orang yang sedang memanfaatkan kita? Pertama, bersyukurlah kepada Allah, karena masih bisa bermanfaat. Artinya masih bisa menolong orang untuk mencapai tujuannya. Entah dia sadar atau tidak, yang jelas kita masih ‘berguna’ bagi orang itu.

Kedua, sadarilah bahwa kita juga pernah ditolong oleh orang lain. Karena tidak ada sukses yang diraih sendirian. Ingat baik baik, Tuhan telah memgirim orang untuk menolong kita meraih cita cita dan rencana-Nya. Untuk itu jangan pernah melupakan jasa dan kebaikan mereka.

Ketiga, jika orang itu kemudian ‘menjual’ anda karena seperti Yudas, besikaplah seperti Yesus. “Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Namun jangan segan segan menegurnya karena sikap memanfaatkan bisa berusak persahabatan dan merusak karir serta pelayanan. Jangan sampaj akhir hidupnya penuh penyesalan seperti Yudas Iskariot.


Pdt Jack Hannes pernah menasehati saya. “Jaga hati Paulus, ada orang yang senyum didepan Anda kemudian berbalik dan menertawakan Anda karena sudah mendapatkan yang diinginkannya”.

Berbahagialah yang masih bisa bermanfaat bagi orang lain. Celakalah orang yang sering memanfaatkan orang dan tidak pernah menghargai peran orang lain. Perhatikanlah, sikap hidup menentukan pencapaian hidup. Sikap yang buruk bisa menjadi musuh kehidupan. Belajarlah menjadai orang yang bermanfaat dan jangan suka memanfaatkan. Selamat melaksanakan.

http://www.mercypeduli.com

GEJALA SAKIT JIWA

“Di dalam jiwa yang sehat terdapat semangat, harapan dan gairah hidup”

Jiwa yang utuh merupakan kesatuan pikiran, kehendak dan perasaan. Namun saat kehendak dengan pikiran tidak selaras, jiwa mengalami dislokasi dan perlu segera dibawa ke sangkalputung. Dislokasi jiwa alias kesleo itu melemahkan. Saat tangan kesleo, kekuatannya berkurang. Demikian juga dengan jiwa. Jika dibiarkan terlalu lama, bisa bisa jadi lumpuh.

Masalahnya, banyak diantara kita tidak sadar jika sedang mengalami ‘sakit jiwa’. Jelas jelas hidup dalam kebohongan, dusta dan kepura puraan, namun kita menganggapnya sebagai ‘gaya hidup alternatif’. Bagaimana kita bisa mendekteksi keadaan jiwa yang tidak sehat? Gampang, ikuti saja ‘test luar dalam’. Apakah yang terucap keluar sama dengan yang ada dalam hati? Apakah yang kita lakukan selaras dengan kehendak jiwa?

Jika hidup ‘bagaikam kuburan yang dilabur putih’, maka jiwa ini sedang dalam keadaan ‘gawat darurat’, maka segeralah masuk ruang ICU. Rasa bersalah, mudah putus asa, amarah, sok rohani, merasa selalu benar adalah gejala kasad mata atas jiwa yang terluka. Waspadai kebiasaan ‘merohanikan’ segala keadaan. Begitu mudah menyalahkan keadaan dan mengkambing hitamkan setan. Padahal sudah jelas kitalah yang membiarkan kesalahan.

Dosa tidak bisa dilupakan, kesalahan tidak bisa dibiarkan, kebohongan harus diakui dan tidak dijadikan kebiasaan. Berhenti berpura pura rohani demi menutupi lapar jati diri. Jujurlah dengan Allah dan diri sendiri. Kembalikanlah perasaan, pikiran dan kehendak dalam kesatuan. Dan rasakan damai sejahtera yang melampaui segala akal memerintah jiwamu. Masih belum sanggup? Datangkan kepada Allah dan akui segala kesalahan, mohonlah pengampunan. Ia yang setia dan adil akan segera menyegarkan jiwamu.