Berani Berubah

Berubah itu tidak mudah karena mengganggu zona nyaman dalam hidup. Maka jangan kaget jika ada orang ‘ndableg’. Sudah diberitahu untuk berubah tetapi tetap tidak berubah. Alhasil, hidupnya hanya begitu begitu saja. Tidak membanggakan, tidak membahagiakan dan cenderung membosankan. Jika Anda tetap melakukan irama hidup yang sama dan mengharapkan hasil yang berbeda, Anda masuk dalam golongan orang gila.

Perubahan adalah sebuah dinamika hidup. Semua yang kasad mata dibumi ini bergerak dalam perubahan. Ada yang bilang jika satu satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.  Maka bersiaplah untuk berubah supaya bisa menikmati hidup. Apa yang harus berubah? Cara berpikir.  Tinggalkan yang lama ganti dengan yang baru. Lupakan yang menyakitkan, ingat yang manis dan bisa membahagiakan. Lepas yang tidak berguna, bawa yang bermanfaat. Cari kawan baru dan tinggalkan sahabat yang meracuni. Ganti paradigma lama dengan kebenaran Firman yang memaksimalkan hidup.

Belajar dari Rasul Paulus yang punya semboyan ‘Aku telah melupakan apa yang ada dibelakangku.” Dia juga yang menyarankan supaya setiap orang percaya bisa melakukan perubahan hidup dengan mengubah akal budi.

“Janganlah ikuti norma-norma dunia ini. Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru, supaya kalian berubah. Dengan demikian kalian sanggup mengetahui kemauan Allah–yaitu apa yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya dan yang sempurna”

Jika selama ini anda terpuruk dalam hidup, sudah waktunya meninjau kembali cara berpikir. Jika Anda tidak bahagia dalam pernikahan, mungkin inilah saat yang terbaik untuk melihat kebiasaan yang salah yang mengganggu keharmonisan. Jika pekerjaan membuat anda stress, carilah pekerjaan yang baru. Jika anda sedang mengalami kebangkrutan atau kegagalan, inilah saat terbaik untuk mengubah konsep atau nilai nilai hidup. Jangan takut berubah karena berubah adalah keharusan dalam hidup ini.

Tidak ada keberhasilan yang bersifat instan. Semua yang namanya sukses harus melewati proses. Memahami dan mengantisipasi halangan adalah awal dari kemenangan dalam mencapai keberhasilan dalam kehidupan. Berikut ini adalah tiga penghalang mencapai keberhasilan.

PENANTIAN (DELAY)

Setelah diurapi menjadi raja, Daud tidak langsung duduk di singgasana. Jangan pernah berpikir semua akan serba mudah, gampang dan tanpa penghalang. Daud harus menanti bertahun tahun lamanya untuk menjadi raja, meskipun tuhan yang merencanakan. Coba baca sejarahnya, sebagian besar waktu hidup Daud habis di goa dan pelarian. Disanalah Daud diproses oleh Tuhan untuk menjadi pemimpin yang bisa mewariskan legacy bagi generasi berikutnya. “Jangan pernah mengambil jalan pintas yang bisa menjerumuskan atau membatalkan rencana yang besar dalam hidup”

RASA KECEWA (DISCOURAGEMENT)

Hati Daud terbakar manakala mendengar cemooh dan intimidasi dari Goliat. Hatinya menjadi panas saat Allahnya dihina dan dilecehkan oleh orang orang Filistin. Maka Daud ingin bergabung dengan tentara Israel melawan Goliat dan pasukannya. Namun kakaknya justru menyuruhnya pulang menggembalakan domba. Seringkali orang yang mengecewaakan adalah mereka yang paling dekat dengan hidup kita. Tetapi jangan menyerah gara gara kata kata orang. Jalani terus apa yang menjadi impian sampai sukses ada di tangan.

TIDAK DISETUJUI (DISAPPROVAL)

Tidak semua keinginan Anda disetujui oleh orang disekitar Anda. Keinginan Daud untuk ikut perang juga tidak disetujuai oleh Raja Saul. Daud dianggap kurang pengalaman dan tidak bakalan menang menghadapi pasukan Goliat yang sudah terlatih di medan perang. Bahkan Saul sendiri ketakutan menghadapi mereka. Namun Daud tidak menyerah kalah dengan semua yang didengarnya. Dia tetap maju berperang dengan keyakinan Allah telah menyetuji dan menyertainya. Berbekal lima batu kali dan keyakinan yang kuat, Daud berhasil membunuh Goliat.

Jangan berhenti atau menyerah gara gara menanti terlalu lama. Jangan berputar arah gara gara kata kata yang buat hati lemah. Jangan juga berhenti gara gara banyak tangan mencoba menghalangi. Jika visimu datang dari Tuhan. Jalani saja prosesnya, setia hidup diatas janji Firman-Nya. Jangan pernah mengijinkan apa kata orang mengehntikan langkah Anda menjalankan rencana Tuhan.

INGAT NATAL INGAT DOSA

Sebutan ‘sahabat orang berdosa’ begitu lekat diberikan pada Yesus. Semu itu gara gara Ia sering terlihat makan semeja dengan mereka yang dianggap ‘Tidak bersih lingkungan’.

Para ulama Yahudi sering merasa gerah saat melihat Yesus dari Nazaret berkumpul dengan preman, koruptor, PSK dan kaum ‘pinggiran’. Selama ini kaum agamawi telah membangun tembok pemisah antara ‘kami para ulama’ dan mereka para pendosa. Ada semacam rasa takut jika dosa mereka akan menular dan mengotori hidup dan ibadah mereka.

Sekat pembatas itu telah membuat jarak dalam tatanan sosial. Penderita penyakit lepra harus diasingkan, wanita menderita pendarahan dianggap najis, pezinah harus dirajam batu, jangan sekali kali makan di rumah pemungut cukai, memyembuhkan orang lepra di hari Sabat tidak dibenarkan. Tanpa sadar, prilaku ini telah menghakimi mereka yang dianggap kotor, najis, dan tersisih. Ritual agama menjadi beban hidup, dan manusia semakin sulit untuk membaharui hidup.

Para ulama lupa bahwa agama hadir untuk menuntun mereka yang hidup dalam dosa, menerangi mereka yang gelap, menghidupkan harapan, dan mengangkat kembali harkat manusia sebagai ciptaan Allah. Kehidupan yang legalistis itu telah menjadi beban hidup dan menciptakan kemunafikan.

Yesus datang ke dalam dunia untuk menolong manusia terbebas dari beban hidup. Itulah sebabnya ia pernah memberikan unadangan “Marilah kepadaku hai kamu yang letih lesu dan berbeban berat, aku akan memberikan kelegaam kepadamu.” Yesus juga pernah memberikan jaminan bahwa kehadirannya memang khsus untuk mereka yang terbebani oleh dosa.

Itulah sebabnya dengan jelas Yesus mengatakan “…karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Untuk itu jangan heran jika Yesus sering berkumpul dengan Matius dan Zakeus si pemungut cukai atau bercakap cakap dengan wanita Samaria.

Agama tanpa belas kasihan akan kehilangan kekuatannya. Keyakinan tanpa tindakan nyata tidak ada gunanya. “Orang sakit tidak perlu tabib”. Orang suci tidak perlu gereja. Sudah saatnya gereja harus berfokus untuk menolong, menjangkau, memuridkan dan memulihkan orang berdosa. Jangan sampai kita kehilangan passion dan compassion untuk mereka yang ada di hati Tuhan. Bukankah anak manusia datang untuk menyelamatkan yang terhilang?

Jadikan bulan natal ini sebagai ‘bulan peringatan bahw kita telah dipilih dan dipanggil untuk melakukan apa yang Yesus lakukan, datang untuk orang yang berdosa. Jangan lupa mengundang mereka hadir dalam acara perayaan natal di gereja Anda. Jangan hanya mengundang orang saleh, orang kaya, orang benar atau orang terhormat. Undanglah mereka yang tersisih, tercecer, terhina, terpojok dan terlupakan. Selamat menyambut bulan Natal 2021

TIGA KALI BERCERAI

Secara tidak sengaja aku bertemu dengan Robert. Kami makan ‘King Burger’ satu meja di Hong Kong Airport. Tanpa menunggu lama kami berdua terlibat percakapan antar pria. Sambil bercerita, pria asal New York ini langsung curhat masalah pergumulan hidupnya.

Ia terbang 24 jam dari New York menuju kota Manila demi satu wanita. Robert ingin segera menemui Lydia, wanita yang digadang gadang akan menjadi teman hidupnya. Dari mana ia bisa mengenal Lydia? Dari mata turun ke hati, berawal dari facebook turun ke lubuk hatinya. Robert sudah berumur 55 tahun dan masih berburu teman hidup lantaran tiga kali pernikahannya kandas dalam perceraian. Maka akupun to the point “what made you divore three times”. Jawabannya bikin telingaku merah “all my wives did not understand me, I am an artist, I live my feeling”. Inilah biangnya perceraian.

Kehidupan pernikahan tidak bisa disetir oleh perasaan atau penglihatan. Cinta itu keputusan kehendak, bukan feeling. Jika pernikahan dikendalikan oleh perasaan, hancurlah hubungan saat ‘bad mood’ datang. Akupun bilang pada Robert, ‘jika Anda masih salah paham tentang cinta, pernikahan Anda yang ke seratus juga akan berakhir dalam perpisahan.

Cinta adalah pilihan kehendak yang melibatkan komitmen ‘walaupun’. Walaupun kamu sudah menyakitkan aku, cintaku tetap untukmu, meskipun engkau sudah keriput dan botak, aku tetap menyayangimu”.

Benarlah kata seorang pakar, kehancuran pernikahan bukan karena masalah duit, pihak ketiga, seks atau masalah iman. Kebanyakan pernikahan berakhir dengan perceraian karena kurangnya pengetahuan. Lack of knowlede itulah biangnya kehancuran. Untuk itu setiap pasangan harus selalu mengasah pemahaman, mendalami pengetahuan tentang cinta dan pernikahan. Dalam hal ini gereja yang paling bertanggung jawab dalam memperlengkapi dan mempersiapan pasangan pasangan muda menuju pernikahan yang diberkati.