BERMEGAH DALAM KELEMAHAN

Ada seorang penafsir yang mengatakan bahwa Rasul Paulus pernah menderita penyakit kanker mata. Ia memakai istililah ‘utusan iblis yang menggocoh aku. Penyakit itu sangat mengganggu kinerjanya sebagai pemberita Kabar Baik. Sebagai orang beriman ia telah berdoa dan memohon keajaiban dari Allah namun penyakitnya tidak kunjung sembuh. Dari situlah ia membingkai kembali ‘kelemahan’ dalam hidupnya sebagai ‘kebanggaan’ yang layak untuk dibagikan.

KELEMAHAN MENYADARKAN KITA

Rasul Paulus menyadari bahwa Tuhan bisa memakai ‘penyakit’ untuk kebaikan kita. Kebaikan macam apa? Supaya kita menyadari bahwa manusia punya kelemahan, itulah sebabnya harus selalu mengandalkan Tuhan. Saat kita sadar bahwa diri ini punya kekurangan dan kelemahan, kita akan hidup dalam kerendahan hati, dan tidak akan pamer kekuatan, kekayaan atau ketenaran.

“Tetapi supaya saya jangan terlalu sombong karena penglihatan-penglihatan yang luar biasa itu, saya diberikan semacam penyakit pada tubuh saya yang merupakan alat Iblis. Penyakit itu diberikan untuk memukul saya supaya saya tidak menjadi sombong.”

KELEMAHAN MEMBUAT KITA BERGANTUNG PADA KASIH KARUNIA

Ada banyak pergumulan hidup yang tidak bisa selesaikan dengan harta kekayaan, jabatan, kekuasaan atau ketenaran. Ada yang uangnya tidak bisa habis dimakan tujuh turunan, namun pernikahannya menghadapi kehancuran. Uang yang banyak tidak bisa menyelamatkan pernikahannya. Hanya kasih karunia yang bisa menyelesaikan segalanya. Ada yang punya kuasa, namun harus rela meghabiskan waktu di rumah sakit, dan jabatannya tidak bisa memberi kesembuhan.

Tiga kali saya berdoa kepada Tuhan supaya penyakit itu diangkat dari saya. Tetapi Tuhan menjawab, "Aku mengasihi engkau dan itu sudah cukup untukmu; sebab kuasa-Ku justru paling kuat kalau kau dalam keadaan lemah." Itu sebabnya saya lebih senang membanggakan kelemahan-kelemahan saya, sebab apabila saya lemah, maka justru pada waktu itulah saya merasakan Kristus melindungi saya dengan kekuatan-Nya. (II Kor. 12:8-9)

POSISIKAN DIRIMU HIDUP DALAM KASIH KARUNIA

Mana yang anda pilih; beban hidupmu diangkat oleh Tuhan, atau diberi kekuatan ekstra oleh Tuhan supaya mampu menanggung beban? Saya memilih yang kedua. Saya memilih untuk mendapat kekuatan ‘tenaga dalam’ dari Tuhan sehingga mampu memikul setiap beban hidup. Untuk itu saya akan terus memposisikan diri hidup dalam kasih karunia-Nya. Terus percaya dan merendahkan diri di hadirat-Nya.

Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. (Yohanes 1:16-17

Vitamin Bagi Jiwa Kita

Sang Rasul pernah berdoa secara khusus untuk jemaat di Efesus. Kali ini ia tidak memohon kepada Tuhan agar jemaat menjadi kaya raya dan bebas dari penyakit. Sang rasul juga tidak berdoa agar jemaat terbebas dari ujian dan malapetaka. Namun ia secara khusus bersyafaat agar Tuhan memberikan kekuatan batin melalui kuasa Roh Allah. “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,…”

Kekuatan batin atau jiwa adalah modal yang sangat menentukan kesehatan badan, usaha, keluarga dan pelayanan. Mereka yang memiliki kekuatan jiwa, hidupnya penuh dengan semangat. Tetap bergairah meski menghadapi masalah. Wajah penuh sukacita meski diijinkan sengsara. Tetap fokus pada pekerjaan dan pelayanan meski banyak rintangan yang bisa mengalihkan perhatian. Tidak mudah putus asa dan hidup dalam doa.

Rasul Paulus tahu persis betapa penting memiliki kekuatan batiniah di tengah tengah kerasnya kehidupan. Segala macam rintangan dan ancaman sudah ia lalui, mulai dari bahaya kelaparan, terkatung katung di tengah laut, kelaparan, hukum cambuk, aniaya hingga ancaman kematian telah ia lewati. Namun semuanya bisa dilewatinya karena ada kekuatan ekstra yang datang dari Roh Allah. Pengalaman itulah yang telah membuatnya berdoa untuk kita semua agar selalu diberi kekuatan jiwa.

Kitab Suci dengan jelas mengatakan “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?” Apa artinya punya badan sehat tetapi jiwanya rapuh? Apa gunanya menjadi orang genius namun mudah putus asa? Lebih jauh dikatakan bahwa “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Pertanyaannya adalah “dari mana kita bisa mendapatkan kekuatan bagi jiwa kita?” Makanan bagi jiwa adalah firman Allah dan minumannya adalah doa. Sama seperti tubuh membutuhkan asupan makanan dan minuman, demikian juga dengan jiwa atau batin ini. Untuk itu sering seringlah membaca Firman Tuhan. Saat Roh Allah memberikan rhema, Firman itu akan menjadi vitamin bagi jiwa yang akan diserap dan langsung memberi kekuatan ekstra. Doa Anda menjadi sarana atau saluran kekuatan ilahi. Saat kita banyak meluangkan waktu untuk berdoa dan merenungkan Firman-Nya, di sanalah kita akan mengalami kekuatan ilahi yang luar biasa.

Sudah saatnya kita menjadikan kebiasaan berdoa dan membaca firman seperti kebiasaan makan pagi. Tidak perlu dipaksa atau diingatkan, kita melakukannya sebagai gaya hidup bukan ritual. Praktekan gaya hidup ini selama tiga bulan, maka Anda akan melihat dampaknya yang luar biasa bagi jiwa Anda. Ingatlah “di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat, pernikahan yang bahagia, keuangan yang dicukupkan dan pelayanan yang bertumbuh. Selamat mencoba.

MANFAAT PELUKAN

Manfaat sentuhan dan pelukan kasih sayang terhadap anak sangat mencengangkan. Menurut hasil penelitian, anak anak yang kekurangan pelukan dan sentuhan kasih dari orang tuanya lebih mudah mengalami sakit, dipresi dan kematian dini.

Hasil penelitian ini diteguhkan oleh seorang ahli antropologi yang bernama James Prescott. “Anak anak yang kekurangan sentuhan kasih, cendrung melakukan kenakalan saat bertumbuh remaja.” Penelitian lain menyebutkan bahwa pelukan itu bisa mengurangi atau menyembuhkan depresi.


"Other research found that women who were neurotic or depressed recovered much more quickly according to the number of times they were hugged, and the duration of those hugs."

Sebagai orang tua, saya sudah banyak belajar tentang makna sentuhan dan pelukan kepada anak. Mungkin karena dulu saya mengalami defisit pelukan, maka saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Hampir setiap hari saya berusaha memeluk anak saya sambil mengucapkan “I love you”. Harus diakui bahwa saat anak menginjak remaja, terkadang mereka malu menerima pelukan orang tuanya, namun demikian hal itu tidak menyurutkan kebutuhan kasih sayang dalam diri mereka.

Hal pertama yang dilakukan oleh seorang ayah saat bertemu dengan anak terhilang adalah memberikan pelukan sambil mencium untuk melepas kerinduan.

"Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia." 

Guru Agung kita juga melakukan hal yang sama saat bertemu dengan anak anak “Lalu Ia memeluk anak- anak itu dan sambil meletakkan tangan- Nya atas mereka Ia memberkati mereka.”

Kapan terakhir kali Anda memeluk anak anak Anda? Jangan lupa yang satu ini, pelukan dan sentuhan terhadap orang orang yang kita cintai itu hukumnya “WAJIB”. Semakin banyak pelukan dan sentuhan, semakin nyaman perasaan mereka. Untuk itulah Tuhan telah menempatkan 500.000 receptor di kulit manusia supaya bisa menikmati sentuhan.


"Anthropologist James Prescott, who pioneered the study of child-rearing and violence, found that societies in which children were rarely touched affectionately, had the highest rates of adult violence. Children brought up with affectionate carers usually ended up growing into better and healthier”

JANGAN MEMBUANG IBU KANDUNG

Ada cerita rakyat tentang membuang orang yang sudah tua, ada dalam cerita rakyat Jepang. Dikisahkan ada seorang pemuda yang sedang menggendong ibunya menuju ke hutan. Ibunya sudah tua renta, kurus badannya dan tidak bisa berbuat apa apa. Sang anak harus memandikan, menyuapi makan dan membersihkan kotoran. Ibunya sudah dianggap menjadi beban bagi hidupnya. Untuk itu sudah saatnya membawa ibunya ke luar dari rumah dan membuangnya ke hutan. Namun demikian pemuda itu merasa heran, mengapa sepanjang perjalanan, sang ibu sesekali mematahkan ranting ranting. Sang anakpun bertanya “mengapa ibu sibuk mematahkan ranting kering di sepanjang perjalanan?” Dengan senyum ibupun menjawab “Supaya kamu tahu jalan dan tidak tersesat waktu pulang ke rumah.”

Mendengar jawaban sang ibu, pemuda itu menangis dan membatalkan niat membuang ibu kandungnya yang dianggapnya tidak berguna. Akhirnya Ia mennggendong ibunya kembali ke rumahnya. Cerita rakyat ini menyimpan pelajaran moral yang sangat penting bagi kita semua. Jangan sekali kali ‘membuang orang tua’. Dengan susah payah ia mengandung, melahirkan dan membesarkan anaknya. Ia tidak pernah meminta bayaran atau balasan. Dengan iklas ia mencintai anak anaknya, meski terkadang kurang dihargai pengorbanannya. Benarlah kata pepatah, kasih anak sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang masa.

Tentu saja di negeri yang agamis dan berbudaya, tidak ada manusia yang tega membuang orang tua kandungnya sendiri. Memang seharusnya begitu, namun kenyataan sering kali berbeda. Aku pernah berjumpa dengan seorang wanita muda yang tega membentak bentak ibunya di depan umum. Wanita itu sedang membuang harga diri mamanya di depan banyak orang. Entah apa sebabnya, wanita berparas cantik dan glamour itu memarahi mamanya tanpa ada rasa malu dilihat ratusan orang yang sedang berada di ruang tunggu bandara. Hampir hampir saja aku menyumbat mulutnya dengan koran, karena gregetan. Wanita tua berambut putih itu hanya bisa meneteskan airmata, dipermalukan anak kandungnya sendiri.

Menjadi tua adalah bagian dari kenyataan hidup, tetapi berprilaku baik kepada orang adalah pilihan. Kita semua akan menuju ke sana. Jangan sok hebat dan kurang ajar pada wanita yang membawamu lahir dalam dunia. Setiap orang tua pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Belajarlah menutupi kekurangan mereka seperti anak anak nabi Nuh yang menutupi tubuh ayahnya dengan pakaian saat ia mabuk dalam keadaan telanjang.

Ingatlah dengan baik atau tuliskankah di dalam hati, bagaimana kita memerlakukan orang yang lanjut umur, akan menentukan panjang atau pendeknya umur kita.

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu." 

Jangan pernah menghina, menista atau membuang orang tuamu sendiri. Sayangilah mereka apa adanya. Mumpung masih diberi waktu untuk bersama mereka, layani, hormati dan berkan yang terbaik. Jangan sampai Anda menyesal di kemudian hari..

BELAJAR MENGASIHI MUSUH

Belajar mengasihi musuh itu hukumnya wajib. Ini perintah Tuhan, bukan perintah dari musuh. Kalau Tuhan yang memerintahkan berarti ada berkat dibalik permusuhan. Yesus sendiri mengalami permusuhan dari Farisi, Saduki dan bahkan pengkhianatan dari muridnya. Pasti ada berkat dibalik perintah ini. Fakta membuktikan, tidak ada hidup tanpa permusushan atau perselisihan.

Mengasihi musuh adalah tindakan mulia, bukan kebodohan. Berani mengasihi musuh bebarti sedang mengambil jalan tinggi. Saat kita mengasihi musuh kita sedanng memuliakan Bapa kita di sorga. Maka jangan kaget jika saat kita mengasihi musuh, berarti kita sedang mepraktekan nilai kehidupan sorgai yang paling tinggi.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:44-45)

Mengasihi musuh harus kita praktekan dalam kehidupan karena sering kali Tuhan memakai ‘musuh’ untuk membentuk karakter kita. Kualitas kasihmu seperi apa? Lihalah saat dirimu sedang difitnah, dilecehkan dan direndahkan orang. Apakah kita orang yang reaktif atau proaktif? Apakah kita meresponi kenyataan dengan rasa atau prinsip kebenaran? Masih sanggup mengampuni dan mendoakan mereka yang telah melukai hatimu?

Allah sering memakai musuh untuk mengantarkan kita pada rencana-NYA yang mulia. Yusuf paham sekali dengan semua ini saat ia mengatakan kalimat ini pada orang orang yang pernah bikin susah hidupnya “Kalian mereka-rekakan yang jahat, tetapi Tuhan memakai semuanya itu untuk kebaikan kalian.” Nampaknya Yusuf menyadari dari awal, bahwa jalan menuju ke puncak memang tidak mudah. Harus ada tikungan dan tanjakan terjal. Jangan mengeluh dan jangan membenci. Jalani saja nanti Allah yang akan berperkara.

Permusuhan juga sering diijinkan untuk menguji visi dan misi hidup ini. Komitmen kita pada panggilan Allah akan teruji oleh tantangan dan permusuhan. Bergurulah pada Nehemia. Visinya untuk membangun tembok Yerusalem mendapatkan perlawanan dari banyak orang. Namun ia tidak sedikitpun punya niat untuk berhenti dan membatalkan niatnya. Mengapa? Nehemia tahu bahwa visi itu datangnya dari Allah. Ia tahu Allahnya akan menyertai. Musuh menguji visi anda. Maka kasihilah musuhmu

MENDAPATKAN KEBAIKAN DARI KESULITAN

Maukah Anda menanggung derita akibat kesalahan orang lain dan demi kebaikan orang tersebut? Tentu saya jawabannya adalah TIDAK! Tetapi kenyataan sering memaksa untuk berkata YA.


Yusuf Bin Yakob adalah saksinya. Ia pernah dimusuhi dan dijual oleh saudara saudaranya menjadi budak. Masuk penjara tanpa diadili akibat fitnah tetapi akhirnya menjadi orang nomer dua di negara adidaya. Dengan hikmatnya yang luar biasa ia bisa menyelamatkan warga Mesir dan saudara saudaranya menghadapi kelaparan. Saat saudara saudaranya datang untuk meminta maaf ia berkata:


Kalian telah bermupakat untuk berbuat jahat kepada saya, tetapi Allah mengubah kejahatan itu menjadi kebaikan, supaya dengan yang terjadi dahulu itu banyak orang yang hidup sekarang dapat diselamatkan. (Kekadian 50:20)


Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kalimat diatas? Rencana Allah sering melibatkan pengalaman buruk. Namun dibalik semuanya itu ada kebaikan. Tuhan memang maha baik kepada kita, tetapi tidak berarti kita akan bebas dari kesulitan pengalaman buruk. Sering kali ‘pengalaman buruk’ adalah bagian dari kebaikan-Nya.


Untuk itu belajarlah dari Yusuf. Melihat keburukan dari kaca mata kebaikan Allah. Membingkai pengalaman pahit dengan kebenaran Firman yang selalu ‘manis’. Memakai kacamata ilahi untuk menterjemahkan kenyataan. Melihat masa lalu dengan masa depan, bukan sebaliknya. Menghadapi kegelapan dengan terang kebenaran. Dengan demikian kita bisa tersenyum dan berkata:


Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja sama dengan segala perkara untuk kebaikan kita yang mengasihi-Nya dan hidup sesuai dengan rencana-Nya

MENGAPA DIA MENINGGALKAN KAMI?

“Pak Paulus doakan saya pak. Mengapa semua jadi begini. Mengapa suamiku pergi terlalu cepat”? Sambil mengusap wajah suami yang sudah dingin membiru, sang isteri bertanya kepadaku. Akupun tidak kuasa menahan air mata. Sahabatku telah pergi dengan meninggalkan isteri dan anak anak yang baru menginjak masa remaja. Suasana duka begitu terasa, terlalau banyak kenangan indah dan janji yang belum terlaksana.

Semalam, kedua mataku sulit terpejam, pikiran ini terlalu banyak bertanya. Bernarkah Allah maha bijaksana? Mengapa sahabatku pergi saat anak anak masih membutuhkan kehadiran ayahnya? Mengapa harus menghadap Yang Maha Kuasa, padahal ia sedang berada dipuncak karya demi menjalani panggilan hidupnya. Umur 48 masih terlalu muda untuk menjadi penghuni alam baka.

Ada kegelisahan di hati yang sudah lama bersembunyi. Semua itu terjadi karena terlalu banyak kenyataan di bawah matahari yang sulit kupahami. Mengapa maut menjemput mereka yang sehat walafiat, sedangkan mereka yang sudah bosan hidup justru dilewati malaikat maut. Mbah Bonah tiap malam bersujud memohon jadwal panggilan supaya segera pulang ke rumah Bapa, namun sampai hari ini masih menunggu tanpa kepastian. Padahal tanah kubur dan peti kematian telah disiapkan.

Mungkin ini yang namanya misteri ilahi. Hanya sorga yang bisa menjawab dengan pasti. Sudah lama tersurat, hidup ini bagaikan uap, muncul kemudian lenyap. Seperti bayang bayang yang mudah hilang. Kita semua hanyalah seorang musafir yang singgah minum, numpang lewat. Berhenti sejenak dan merenung. Jika jantung masih berdenyut, sebaiknya segera bersujud. Lipat tanganmu dan syukuri apa yang ada di depan mata.Betapa singkat Kautentukan umurku! Bagi-Mu jangka hidupku tidak berarti.



Sungguh, manusia seperti hembusan napas saja, hidupnya berlalu seperti bayangan. Semua kesibukannya sia-sia belaka; ia menimbun harta, tapi tak tahu siapa akan memakainya. Sekarang apa yang kunantikan, ya TUHAN? Pada-Mulah harapanku.

SADAR SAAT TIDAK SADAR

Akhirnya dia menyadari jika virus covid-19 itu nyata adanya. Awalnya dia tidak percaya bahkan menentang segala bentuk anjuran pemerintah termasuk melakukan protokol kesehatan 5M. Seringkali sisipkan dalam khotbah “Yesus sanggup menghancurkan virus ini, kuasa darah Yesus lebih dasyat dari virus. Sedikit meremehkan bahaya karena tidak menyadari bahayanya.

Memang benar kuasa darah Yesus lebih dasyat, tetapi tidak berarti hidup ceroboh dan abai. Memang benar Allah sanggup menjaga dan melindungi kita, tetap kalau jalan dijalan raya harus minggir supaya tidak ditabrak mobil. Sadar?
Nanun setelah diopname dua minggu karena pisitif covid, Ia mulai mengakui bahwa Covid Delta memang nyata dan sangat berbahaya. Tanpa menunggu lama ia mulai berbagi ‘warning’ dan ‘himbauan kepada sahabat dan jemaat. ‘Jangan lupa jaga jarak, pakai masker, cuci tangan dan lain sebagainya.

Hamba Tuhan ini baru menyadari setelah 24 jam tidak sadar di dalam ruang ICU. Terkadang Allah mengijinkan kita mengalami saat terburuk supaya memahami yang terbaik dari Allah. Ada waktu kita berjalan dalan lorong gelap supaya melihat terang. Tidak sedikit yang diijinkan mengalami derita supaya paham artinya kasih karunia.

Kesadaran adalah awal pencerahan. Dan pencerahan adalah modal perubahan. Semakin banyak kesadaran semakin bijak membuat keputusan hidup. Berdoalah kepada Allah agar setiap kejadian memberikan hikmat kehidupan. Mereka yang punya banyak hikmat tidak akan kesulitan menghadapi persoalan.


Hikmat lebih berharga daripada batu permata; semua yang kauidamkan tak dapat menyamainya. Hikmat memberikan kepadamu umur panjang, kekayaan dan kehormatan. Hikmat membuat hidupmu senang dan sejahtera. (Amdal3:15-17)

KEMANA LAIRNYA KEMESRAAN?

KEMANA LARINYA KEMESRAAN

Yang namanya kemesraan itu seperti tanaman dikebun, jika tidak dirawat, disirami disiangi bisa mati dengan sendirinya. Makanya dengarkan peranyaan Alm. Pance Pondang  “Mangapa harus begini, tiada lagi kehangatan, Memang ku sadari, Sering kutinggalkan kau seorang diri.”  Syair lagu ini telah menjawab semua yang penasaran ‘kemana larinya kemesraan.

Kemesraan hilang saat hubungan merenggang. Entah karena pekerjaan, kesibukan atau mulai berganti pandangan. Yang jelas tidak ada asap kalau tidak ada api.  Ketika kemesraan sekarat, pernikahan bisamu akan segera ambyar. Jangan pikir waktu akan menyembuhkan dan memulihkan segalanya.  Waktu tidak akan menyembuhkan, tetapi usaha Anda yang bisa memulihkan.  Mulai dari sebuah kesadaran, temukan akar persoalan dan bertindak sesuai dengan kebenaran. 

Jangan bilang ‘Bukannya aku sengaja, meninggalkan kau sendiri

 Aku menyadari bukan sandiwara kasihmu kepadaku’. Mohon maaf, setahu saya semua prilaku kita selalu minta restu pikiran. Apapaun yang kita lakukan adalah kesengajaan. Jika  “Tiap Malam engkau ku tinggal pergi.  Bbukan, bukan, bukannya aku sengaja. Demi kau dan sibuah hati, terpaksa aku harus begini.’’  Apapun alasan Anda, jangan pernah mengorbankan hubungan pernikahan demi yang lain. 

Jangan berlindung dibalik ‘alasan ekonomi’ kemudian kau ijinkan kehancuran hubungan terjadi. Segera tentukan skala prioritas dalam hidup. Apa yang paling penting dalam pernikahanmu? Uang? Kekayaan? Ketenaran? Atau ‘Si buah hati?  Setahu saya dan belajar dari pengalaman, Tuhan adalah nomer satu, setelah itu pasangan, anak anak dan pekerjaan atau pelayanan.  

Jangan sampai gara gara salah membuat prioritas, akhirnya kmenyesal seumur hidup.  Belajarlah dari drama Korea yang berjudul ‘’The  Penthouse’’. Pengusaha serakah dan berdarah dingin yang bernama Jo Dan Tae, rela mengorbankan, pernikahan, anak anak, demi kekayaan dan popularitas. Akibatnya kebahagiaan absen dari hidupnya.  Benarlah apa orang dibilang “Harta hanyalah hiasan hidup semata, kejujuran, keikhlasan itu yang utama. Jangan kau taburi cinta dengan permata, tetapi hujanilah semua dengan kasih sayang. ‘’ (Panbers)

BERHENTI NYABU KARENA LAGU

Anda boleh percaya atau tidak percaya, ada seorang pemuda yang sudah kecanduan narkoba 14 tahun tiba tiba bisa berhenti total gara gara sebuah lagu yang ia dengarkan. Kisah nyata ini dialami oleh nyong dari Ambon manise. Sejak kelas 2 SMP ia sudah berkenalan dengan barang haram yang datang dari neraka jahanam. Waktu itu ia tidak tahu bahwa niat mecoba itu akan menghancurkan sisa hidupnya. Awalnya dapat gratisan, akhirnya setelah kecanduan ia harus merogoh kantongnya untuk mendapatkannya.

Didukung oleh keadaan dan teman pergaulan yang cenderung liar dan nakal, Johny (samaran) mulai berusaha dengan segala cara untuk bisa mendapatkan sabu sabu. Apalagi kalau lagi ‘sakau’ ia bisa melakukan apa saja demi mengobati dirinya. Untuk itu ia nekad menipu teman, mencuri, jual diri, berkelahi dan bahkan menghabisi harta benda orang tuanya. Menurut pengakuannya, saat ia tinggal di ‘Kampung Ambon’ ia pernah menjadi pengedar sekaligus bandar narkoba yang cukup disegani oleh kawan kawannya.

Suatu pagi selesai mandi ia terkejut melihat wajahnya dalam cermin. Mukanya kusut, terlihat pucat seperti mayat hidup. Pada saat yang sama ia mendengarkan sebuah lagu Ambon, “Biar Api Injil Terus Menyala…’ Entah mengapa tiba tiba pemuda ini menangis dan bertanya dalam diri “kalau hidupku hancur berantakan karena narkoba, bagimana aku bisa menjadi saksi injil? Aku akan mati jadi sampah yang tidak berguna dan memalukan nama Tuhan”

Pertanyaan itu bagaikan jendela rumah yang membuka tabir kegelapan dalam hidupnya. Sinar terang dari Roh Tuhan menembus jiwanya yang luka, gelap dan terhilang. Ia meneteskan air mata sambil berdoa dalam penyesalan yang dalam. Hari itu menjadi hari pertobatannya. Dengan berani ia mengucapkan selamat jalan kepada barang haram yang selama ini mengikatnya.

Jauh di sana, di pulau Ambon, ada seorang mama yang setiap malam menyebut nama anaknya dalam doa. Selama 14 tahun ia tidak henti hentinya memohon, meminta, berseru kepada ‘Tete Manis’ Tuhan Yesus agar membebaskan anaknya dari ikatan obat terlarang. Syukur kepada Tuhan, doa mama memang besar kuasanya. Air matanya tidak sia sia, dengan anugerah Allah, Johny sang anak berhenti dan terbebas dari ikatan yang merusak dan mematikan.

Kesaksian ini memberi harapan baru bagi Anda yang sedang bergumul dengan ikatan narkoba sekaligus berita bagus bagi orang tua yang anaknya sedang dalam kehancuran karenanya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi orang yang percaya kepada keajaiban kuasa Allah. Dia sanggup dan bersedia memebaskan setiap belenggu, meringankan semua beban, mengampuni semua kesalahan dan memulihkan semua yang hancur. Dialah Yesus, Ia datang dari sorga menjadi manusia, untuk menolong dan menyelamatkan umat manusia. Kasih-Nya yang luar biasa mampu memulihkan hidup kita. Buka hatimu dan beri tempat baginya. Bersahabatlah dengan-Nya karena Ia berjanji untuk selalu menyertai kita dalam suka dan duka. Jangan tunggu lama lama, sekarang juga undang Dia masuk dalam hatimu dan biarkanlah Ia menjadi Juru selamatmu. Amen.