Jika pernikahan sedang hancur berantakan, jangan cari kambing hitam. Jika rumah tangga tidak bahagia, jangan menyalahkan setan. Jika suami minggat tidak pulang pulang, jangan mengutuki selingkuhan. Penyebab utama kekacauan dalam rumah tangga bukan, dhemit, selingkuhan atau berkurangnya jatah tiap bulan. Menurut Pdt. Michael Youssef, penyebab utama terjadinya kekacauan dalam rumah tangga adalah ‘self interest’ atau mementingkan diri sendiri. Persis seperti apa yang dikatakan oleh Yakobus 3:16 “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”

Kata yang diterjemahkan ‘mementingkan diri’ dalam bahasa Yunani adalah eritheía, to work for hire, usually in the mid, used in a bad sense of those who seek only their own. Mencari keuntungan buat diri sendiri dengan melibatkan ‘scheming’ atau rekayasa manipulasi. Saat suami hanya mau cari enaknya atau istri mau selalu dituruti kemauannya dengan melibatkan intimidasi dan dominasi disinilah benih kekacauan akan mulai bertembuh.

Untuk lebih jelasnya, terjemahan ‘The Messege’ memberikan terang untuk memahami. ‘Whenever you’re trying to look better than others or get the better of others, things fall apart and everyone ends up at the others’ throats.’ Saat Anda ingin terlihat lebih baik atau ingin mendapatkan yang lebih dari yang lain, kekacauan akan segera dimulai. Bahkan kejatuhan manusia dalam dosa dimulai dari sifat ini. Hawa ‘ingin menjadi lebih’. Tanpa diskusi dengan suami ia mengambil keputusan untuk memenuhi keinginan ‘to get better’ yang berakhir dalam kejatuhan karena ketidak taatan.

Dibalik roh mementikan diri sendiri menyelinap benih ‘memperbaiki jati diri’. Ingin terlihat lebih cantik, lebih kaya, lebih hebat dengan cara mengorbankan hubungan suami istri adalah sebuah kebodohan. Sudah saatnya untuk duduk bersama dengan mengevaluasi diri. Adakah prilaku mementingkan diri sendiri mengendalikan hidup ini? Coba tengok sejenak semua konflik yang pernah terjadi dalam pernikahan. Apakah Anda maunya menang sendiri? Apakah Anda adalah suami yang selalu menuntut untuk dilayani demi ego?

Jangan seperti Markus Sudibyo yang tiap hari kerjaannya baca koran, menikmati kopi sambil duduk ongkang ongkang. Sementara istrinya kerja keras memberisihkan rumah, mencuci pakaian dan meimba air. Padahal istri sedang hamil dua bulan. Markus yang egois tidak peduli dengan istri yang keletihan. Ia baru sadar dalam penyesalan saat istrinya keguguran dan minta diceraikan. Egoisme, mementingkan diri, terlalu banyak menuntut akan berakhir dengan kehancuran. Ayo, jujurlah dengan diri sendiri. Akui saja dan perbaiki dengan segera. Sebelum pernikahan hancur berantakan.

Tinggalkan Balasan