Hidup ini sering digambarkan seperti sebuah perjalanan bukan pelarian. Yang namanya jalan itu ada aturannya. Salah satunya ‘one step at atime’ atau ‘selangkah demi selangkah’. Demikian juga dalam perjalanan iman, Allah akan membawa kita dari ‘iman kepada iman, ketaatan pada ketaatan, dari kemuliaam kepada kemuliaan’. Jangan lupa, yang bikin perjalanan menyenangkan bukan hanya tujuan akhirnya, tetapi proses selama perjalanan terkadang jauh lebih menyenangkan.

Salah satu tokoh yang memikiki perjalanan hidup yang sangat spektakuler adalah nabi Elia dari Tisbe. Akhir hidup yang diwarnai ‘moment of glory’ tidak lepas dari tantangan hidup yang extra dangerous. Beberapa kali menghadapi ancaman pembunuhan, pernah menjadi target operasi pembunuhan baik oleh raja Ahab, Izebel maupun penguasa yang lain. Beberapa kali ia harus lari bersembunyi, menghadapi bahaya kelaparan dan melawan arus suara mayoritas. Namun semuanya bisa dilewatinya dengan sangat baik.

Satu hal yang menjadi ‘success factor’ dalam perjalanan hidup menuju kemuliaan adalah ‘kesetiaan’. Nabi Elia setia menjalani proses sebelum dimuliakan. Apapun yang diperintahkan oleh Allah dilaksakanan tanpa banyak pertanyaan meski resikonya harus bertaruh nyawa. Satu hari ia menghadap raja Ahab untuk menyampaiakan pesan bencana kemarau panjang dan kelaparan. Setelah itu Allah menyuruhnya untuk bersembunyi dari ancaman. Tanpa banyak bertanya, Elia menuju sungai Kerit. Satu tempat yang sunyi.

Ia tidak sempat membawa bekal makanan, kompor, atau kopi instan. Ia percaya bahwa Allah akan memelihara seperti janji-Nya, “Tinggalkanlah tempat ini, pergilah ke timur ke seberang Sungai Yordan dan bersembunyilah di sana dekat anak Sungai Kerit. Engkau dapat minum dari anak sungai itu, dan burung gagak akan Kusuruh membawa makanan untukmu.”

Kemarau panjang selama 42 bulan membuat air sungai Kerit mengering. What next? Tidak ada lagi roti dan steak yang dibawa oleh burung gagak yang tergolong binatang najis. Namun Allah sudah menyiapkan langkah berikutnya, “Sekarang kau harus pergi ke kota Sarfat, dekat Sidon dan tinggal di sana. Aku sudah menyuruh seorang janda di sana supaya ia memberi makan kepadamu.”

Pelajaran rohani yang bisa petik dari hubungan Allah dan nabi Elia adalah, ‘one step at a time’. Cara Allah memelihara hamba-Nya adalah dengan memberikan petunjuk satu demi satu. Tidak semua rencana-Nya disingkapkan dalam sekejap. Setiap perintah yang baru disertai dengan tantangan dan mujizat perlindungan yang baru. Disinilah Elia belajar arti iman, ketaatan dan pentingnya mendengar suara Allah.

Saat Allah memberikan tugas yang baru, sebaiknya segera mengantisipasi datangnya tantangan yang baru. Jangan lupa di setiap tantangan yang baru selalu tersedia kesempatan mengalami mujizat yang baru. Di setiap mujizat selalu ada hikmat. Inilah indahnya hidup dekat dengan Allah. One step at a time.

Tinggalkan Balasan