Nasib hidup sang janda dan kedua anaknya sedang ada di ujung tanduk. Ia tidak menyangka jika kematian suaminya akan meninggalkan beban hutang yang meyeretnya ke jurang derita. Semua sudah habis dijual untuk membayar beban hutang. Kemungkinan besar sawah, ternak dan rumah sudah ‘dijual’ untuk bertahan hidup. Satu satunya harta yang tersisa adalah kedua anaknya. Anak yang dicintainya dan diharapkan bisa menjadi penopang ekonomi keluarga.

Namun malam itu ‘debt collector’ sudah memberikan surat peringatan, jika tidak bisa melunasi hutang maka anak anaknya akan dijadikan budak sebagai tebusanya. Tentu saja sang ibu meneteskan airmata. Sebagai seorang ibu, ia tidak rela anak anaknya menderita karena kesalahan orang tua. Sudah jatuh ketimpa tangga, itulah nasib sang janda.

Dalam kesunyian ia mulai meratapi nasibnya. Mungkin di hati banyak tanda tanya ‘mengapa suamiku meninggal terlalu cepat, padahal anak anak masih membutuhkannya.’ Fakta bahwa suami adalah seorang hamba Allah tidak menjamin hidup akan bak baik saja. Meski sah sah saja sang janda bertanya kepada nabi Elisa

“Bapak, suami saya sudah meninggal! Dan Bapak tahu bahwa ia juga orang yang taat kepada Allah, tetapi ia berutang pada seseorang. Sekarang orang itu datang untuk mengambil kedua anak saya dan menjadikan mereka hamba, sebagai pembayaran utang almarhum suami saya.”

Hidup dalam pelayanan tidak menjamin bebas persoalan. Menjadi hamba Tuhan tidak otomatis hidup dalam kelimpahan atau tanpa persoalan. Meski setiap hari mengurusi hal hal yang rohani, seringkali harus menjumpai kenyataan yang tidak kita kehendaki. Kekurangan, tekanan, konflik, sakit pengakit, ditinggalkan dan dikhianati adalah bagian dari ‘bunganya’ melayani. Jalani saja, jangan menyerah. Jangan berhenti.

Apakah ini bukti bahwa Allah tidak memperhatikan hamba-Nya yang setia? Jangan sekali kali menghakimi Allah berdasarkan kacamata penderitaan yang sedang kita alami. Jangan pernah mendefinisikan Allah berdasarkan kesulitan kesulitan yang mendera hidup kita. Penderitaan bukan simbol ketidak-pedulian Allah. Kesulitan tidak bisa dipakai untuk menilai kesetiaan Allah. Seringkali penderitaan dan kesulitan diijinkan lewat hidup ini supaya kita bisa melihat kebesaran kuasa-Nya. Lihat saja apa yang akan dilakukan oleh Allah untuk menolong sang janda dengan kedua anaknya.

Minyak zaitun yang tinggal satu botol bisa digandakan dalam puluhan buli buli. Mujizat itu terjadi, minyak itu terus mengisi buli buli kosong hingga tidak ada lagi buli buli yang bisa diisinya. Di saat itulah mujizat berhenti. Hasilnya, hutang bisa dilunasi dan mereka hidup bahagia.

Nanti kalau masok sorga, undanglah ibu janda ini sharing di komsel anda. Pasti ia akan berbagi tentang betapa hebatnya kuasa Allah. Pertolongan-Nya selelu tepat waktu. Berserahlah kepada-Nya. Lipat tanganmu, tundukan kepalamu dan katakan “Ya Allahku aku percaya mujizat-Mu akan terjadi atas hidupku…” Amin.

Tinggalkan Balasan