Sudah tiga minggu menunggu namun belum ada kepatisan yang bisa menghapus ragu. Berapa banyak airmata yang telah tertumpah karena menantikan kabar berita dari orang orang yang tercinta. Demi menghapus rindu, ada yang mencoba berjumpa dalam doa. Ada pula yang sujud sembahyang bertemu kekasih dalam bayangan. Seribu tanya bersembunyi di hati, masih adakah kekuatan yang bisa menyatukan kerinduan hati dengan mereka yang jauh di sana?.

Inilah kenyataan tentang kehidupan. Dunia ini hanya menyodorkan pilihan tanpa kepastian. Kenyataan tanpa tujuan selalu meninggalkan penantian yang menyakitkan. Orang lumpuh di pinggir kolam itu sudah menunggu selama tiga puluh delapan tahun. Begitu lamanya menanti sehingga lupa memberi jawaban yang pasti. Saat pembuat mujizat menawarkan hadiah kesembuhan, ia tidak sanggub memberikan jawaban, yang ia ucapkan adalah keraguan dan alasan.

Abraham dan Sarah harus menanti kehadiran sang putra selama 75 tahun. Begitu lamanya penantian itu sehingga mereka memilih mengambil jalan pintas yang justru menambah pergumulan hidupnya. Sarah tertawa saat mendengar bahwa Allah masih sanggup memenuhi janji-Nya. Zakharia menjadi bisu karena tidak mampu memperjayai keajaiban tentang hadirnya seorang putra dalam keluarganya. Maklum mereka berdua sudah merasa terlalu tua. Menanti kepastian memang bisa membunuh pengharapan.

Hanya ada satu yang bisa mengobati rindu, saat kita bisa bertemu. Hanya ada satu yang mampu menghidupkan pengharapan, iman pada janji janji Tuhan. Hanya ada satu bisa bisa menolong kita mendapatkan kekuatan, saat kita bisa berdiam di hadirat Tuhan. Hanya ada satu yang bisa menghapus keraguan, hidup dalam kebenaran Firman Tuhan. Hanya ada satu yang bisa menyembuhkan hati dari kepedihan, saat kita mengingat kasih setia Dan anugerah-Nya.

Saat hati tenggelam dalam hadirat Tuhan, kita akan merasakan kedamaian, sukacita dan ketenangan. Saat mulut bisa mengucapkan pujian akan kebesaran Tuhan, kita akan menemukan harapan. Saat tangan menengadah dengan jiwa yang menyembah, semua ketakutan akan hilang. lebih baik menanti dalam iman, daripada berharap dalam kepalsuan.

“…tetapi orang- orang yang menanti- nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru:mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

Tinggalkan Balasan