Pernahkan anda berjumpa atau bertatap muka dengan Tuhan, atau mendengar suaranya lansung? Jika belum pernah, anda tidak sendiri. Saya juga belum pernah padahal sudah pingin dari dulu waktu baru bertobat. Terus terang, hati saya sangat iri, tapi iri yang baik. Saya iri setiap kali membaca kisahnya bapak Abraham dan ibu Sarah dalam Perjanjian Lama. Berkali kali punya perjumpaan dengan Allah dan malaikat sorga yang menggetarkan hati.

Saya mencoba mengikuti kisah hidupnya serta berusaha menemukan rahasia dibalik kedekatan hubungan mereka dengan Pencipta-Nya. Lepas dari faktor “Kasih Karunia Ilahi” bapak Abraham memiliki prilaku hidup yang layak untuk dicontoh oleh setiap orang percaya. Tentunya kita meneladani yang baik, dan menjauhi yang kurang baik. Minimal bersedia belajar dari iman dan keteguhan hatinya.

IMAN TANPA BANYAK TANYA
Saat diminta untuk meninggalkan kampung halaman, kerabat dan rumah kedua orang tuanya, ia langsung mengambil tindakan tanpa banyak pertanyaan. Iman yang kuat tidak pernah mempertanyakan perintah Tuhan. Sering mempertanyakan kebanaran adalah tanda bahwa hati ini sedang dalam keraguan. Dan ketaatan tanpa pertanyaan itulah yang perhitungkan oleh Tuhan.

“Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.”

GEMAR MEMBANGUN MEZBAH
Satu satunya Patriach atau bapak bapak Israel yang gemar membangun MEZBAH adalah Abraham. Tercatat Abraham membangun mezbah lebih dari empat kali. Setiap kali ia mengalami perjumpaan dengan Allah, ia segera membangun altar dan mempersembahkan korban. Bagi Abraham, membangun mezbah adalah gaya hidupnya. Mezbah adalat tempat perjumpaan, pemujaan pengorbanan dan ‘mile stone’ bagi kehidupan orang beriman. Bagaimana dengan anda dan saya? Jangan lupa ayat ini.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

ORANG BERIMAN GEMAR BERBAGI
Salah satu sikap hidup orang beriman adalah tidak takut berbagi. Ia tahu bahwa kekayaan yang ia miliki adalah kepercayaan ilahi. Sebagai pengelola, ia sadar bahwa harta dan kekayaan sifatnya hanya numpang lewat. Abraham tidak takut kehilangan haknya. Ia bahkan memberikan kesempatan pada keponakannya untuk memilih lahan penggembalaan demi menghindari konflik antara saudara. Saat diberi kesempatan untuk mengambil barang jarahan hasil perang, ia menolaknya. Ia tidak ingin terkesan kekayaannya datang dari pemberian orang. Saat berjumpa dengan Melizedek, ia spontan mempersembahkan persepuluhan. Jangan kaget kalau hidupnya diberkati dengan luar biasa.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dan direnungkan dari bapak Abraham? Kalau namanya sudah niat hidup dalam iman, jangan suka meragukan Firman. Saat menghadapi kesulitan sambil menanti penggenapan janji janji Tuhan sering menyanyikan lagu “Sing sabar lan manteb tekan pungkasane…” Yangh tidak tahu bahasa jawa, minta tolong Mbah Google. Jangan lupa membangun mezbah doa, berkorban dan terhubung dengan Tuhan kapan saja dan dimana saja. Terakhir, jangan takut memberi. Orang yang gemar berbagi akan dilimpahi rejeki. Jangan pelit, karena orang kikir tidak punya tempat di sorga, kata Kitab Suci.

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Tinggalkan Balasan