Anda tidak bisa menutupi kelemahan dengan pencitraan. Semakin keras Anda berusaha untuk mengelak, semakin dalam dosa akan merusak. Menghias kuburan tidak akan mengubah yang ada di dalamnya. Manusia bisa membungkus bangkai, tetapi tidak akan bisa menghilangkan baunya. Sepintar pintarnya tangan mengemas ikan busuk, baunya akan tercium juga.

Ketidak berdayaan untuk mengakui dosa bisa menjadi petaka kehidupan. Kesalahan baru bisa menjadi pembelajaran jika diakui, prilaku dosa bisa dihentikan jika pelakunya menyadari dan bertobat. Belajarlah dari pegawai pajak yang terkenal korup. Bertahun tahun menipu dan mengambil dari rakyat kecil yang menderita. Setelah ia berjumpa dengan sang Maha Guru, ia langsung menyadari dosanya. Zakeus bertobat dan berubah seketika. Ia tidak takut menghadapi ‘apa kata orang’ dan siap membayar kompensasi atas kesalahannya yang telah dilakukan. Lebih baik benar di mata Tuhan meski harus menanggung malu di depan banyak orang. Daripada sok suci, sok alim, sok tidak bersalah padahal ‘dalam hati’ amburadul.

Jangan sekali kali berlindung dibalik ‘popularitas’ untuk mendongkar integritas. Bukan rahasia umum jika orang berlomba untuk memperoleh nama dengan mengorbankan nilai, keyakinan, harga diri bahkan pernikahan. Lebih baik jujur dengan Allah dan diri sendiri meski tidak populer. Dari pada sebaliknya. Borok akan tetap menjadi borok kalau tidak diobati.

Sudah tahu salah malah ditutup tutupi. Seharusnya mendapat disiplin tetapi malah naik pangkat, dapat promosi. Apa hasilnya? Ia melakukan kesalahan yang sama dengan dampak yang lebih merusak. Kali ini yang jadi korbannya lebih banyak. Lalu siapa yang salah? Lihat saja tingkah polahnya Efsun. Hatinya semakin jahat, selalu bikin ulah yang menjengkelkan. Kemanpun ia pergi, selalu meninggalkan kejengkelan. Ini semua karena Nuran tidak pernah memarahi putrinya, malah mengajarinya berbuat curang, culas dan menghalalkan segala macam cara demi menjadi kaya. Tunggu saja tanggal mainnya, ia akan menuai badai pada waktunya.

Mari kita jujur dengan diri ini. Untuk apa menutupi kekurangan dengan pura pura. Sampai kapan manusia bisa menyimpan beban dosa? Ingatlah yang satu ini. “Upah dosa itu maut”. Lambat atau cepat yang Maha Melihat akan menyingkapkan apa yang dilakukan dalam gelap. Sebab bagi-Nya tidak ada yang tersembunyi. Anda bisa membayar hakim untuk menutupi, atau menggunakan media untuk pencitraan, tetapi Anda tidak akan bisa menyuap hati nurani. Rasa bersalah itu akan membuat Anda gelisah san kehilangan kedamaian hati. Hidup ini hanya sekali, jangan mau jadi badut kehidupan. Bacalah penggalan syair lagu ini.

“Insyaflah wahai manusia jika dirimu bernoda dunia hanya naungan tuk makhluk ciptaan Tuhan. Dengan tiada terduga dunia ini kan binasa kita kembali ke asalnya menghadap Tuhan yang Esa.”

Tinggalkan Balasan