Kesalahan fatal Anak Bungsu adalah belum bisa mengelola harta warisan. Uang habis hanya untuk pesta pora tanpa memikirkan akibatnya. Harta bagaikan sebilah pesau. Salah menggunakan justru bisa menyengsarakan. Tanyakanlah pada mereka yang sering menggunakan harta untuk hal yang sia sia.

“Beberapa hari kemudian anak bungsu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.” Bible

Ada tiga hal yang membuat pemuda ini salah kelola. Pertama, ia tidak memiliki disiplin dalam pengeluaran. Terlihat dengan jelas, ia belum pernah ikut seminar ‘Financial Freedom’. Seharusnya ia mendengar nasehat orang bule “easy come, easy go”. Mereka yang hidup “serba ada dan serba minta” tidak akan pernah berpikir menabung untuk masa depan. Mereka yang tidak pernah merasakan sulitnya cari duit, cenderung dengan mudah membuang duit. Bagaimana mungkin bisa menghargai berkat jika tidak pernah peras keringat?

Kedua, Anak Bungsu sudah terperangkap oleh ‘overindulgance’ alias terlena dengan kenikmatan sesaat. Yang penting hati senang, pokoknya ‘sekarang’. Esok tidak usah dipikirkan. Mereka yang masuk dalam perangkap ‘hedonisme’ dan ‘konsumerisme’ sering kali tidak peduli dengan hari nanti. Tidak pernah berpikir bahwa narkoba, miras dan seks bebas akan merusak tubuh jiwa dan raga. Tobat kalau sudah sekarat, sholat kalau sudah mendekat akhirat.

Kesalahan ketiga, ia tidak pernah mengantisipasi datangnya kesulitan. Dibenaknya tidak ada kamus ‘mengantisipasi’ datangnya kelaparan. Anak Bungsu perlu sekolah kehidupan, supaya sadar bahwa dalam hidup ini kita akan dikunjungi oleh kesulitan yang tidak pernah diundang. Anak sakit, suami kena PHK, rumah kemalingan, bencana melanda, semuanya bisa terjadi kapan saja. Itulah sebabnya berusahalah menabung.

Sisihkan 15 persen dari pendapatan dalam tabungan. Kalau perlu asuransikan jiwa dan kesehatan Anda. Ingatlah prinsip ini “harapkan yang terbaik, siapkan yang terburuk’. Jangan lupa yang satu ini, nyawa ini adalah pinjaman dan harta hanyalah titipan. Keduanya harus di kelola dengan bijaksana.

Tinggalkan Balasan