Lima tahun yang lalu saya hanya melihatnya sebagai kebun yang kurang produktif. Tepat di atas tanah dimana saya berdiri saat ini adalah kebun yang kurang diperhatikan. Tetapi pada hari ini sudah berdiri rumah ibadah yang megah dan bisa menampung 1.400 tempat duduk, full AC dan lapangan parkir yang luas. Saya terharu ketika memasuki ruangan ibadah. Singer dengan seragam merah semarak sedang menyanyikan “Holy Spirit you are welcomed in this place.” Hadirat ilahi begitu nyata terasa. Indah, tenang, senang, menang semua umat memuji sambil menari. Inikah surga sementara?

Ada yang lebih istimewa dari gedung yang megah dan fasilitas yang mahal, yaitu sumber dana pembangunan yang jumlahnya milyaran. Dana itu bukan dari jemaat, bukan karena hasil mengedarkan proposal atau sumbangan para dermawan. Beaya pembangunan itu ditanggung oleh satu orang saja. Jangan pikir ini adalah uang hasil “money laundry”. Luar biasa bukan? Orang itu pernah saya tanya, mengapa bapak tidak meminta sumbangan jemaat? “Saya diberkati Tuhan, saya akan membiayai pembangunan gereja ini, dengan pertolongan anugerah Tuhan.”

Sahabat saya ini memang luar biasa dalan hal memberi. Untuk urusan sosial dan pekerjaan Tuhan ia akan memberi dengan maksimal. Tidak heran jika usahanya selalu diberkati. Dialah orang paling “gila” yang pernah saya kenal dalam hal mendukung pekerjaan Tuhan. Perkembangan pelayanannya sangat mengagumkan. Dalam waktu 5 tahun, pelayanannya sudah merambah ke Eropa dan Amerika. “Semua karena anugerah-Nya, diberikan kepada kita…” katanya, setiap kali ditanya.

Ada rasa bangga saat berjumpa dengan dia pagi ini. Wajahnya ceria, isteri dan anak anaknya juga bahagia. Inilah figur seorang hamba yang seharusnya. Melayani Tuhan harusnya membawa sukacita, bukan beban. Saat pelayanan dilihat sebagai karunia atau hadiah dari Tuhan, kita akan menjalaninya dengan hati gembira. Kalau pelayanan ini adalah milik Tuhan, maka Dia juga yang akan memampukan dan mencukupkan kita untuk melakukan. Jangan pernah mencoba menjadi Tuhan. Manusia yang pernah berkata “kalau bukan karena saya maka…”, kalimat itu merupakan kesombongan yang akan menghancurkan. Belajarlah berkata seperti sahabat saya “semua ini karena anugerah-Nya. Yang dib’rikan kepada kita.”

Tinggalkan Balasan