Kematian Mr. Bo menyisakan banyak pertanyaan. Siapa ahli waris yang berhak mendapatkan semua kekayaannya? Isteri tidak punya, apalagi anak. “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” Membaca akhir hidupnya, aku sangat kasihan dengan nasib Mr. Bo. Selama hidupnya ia membanting tulang, peras keringat, siang jadi malam, malam jadi siang. Setelah hartanya terkumpul dan siap untuk dinikmati, ia lebih dahulu harus menjemput ajalnya dan mengucapkan selamat tinggal pada semua yang dimilikinya. Benar benar kasihan, mengenaskan, dan memprihatinkan.

Saking sibuknya mencari dan mengumpulkan kekayaan, ia lupa minikmati apa yang menjadi miliknya. Inilah nasib orang yang hatinya terobsesi untuk memiliki lebih. Ia dikuasai oleh keinginan, dan akhirnya menjadi korban atas keserakahan. Apa gunanya memiliki lebih tetapi setelah terkumpul semuanya tidak sempat menikmatinya?

Seorang raja yang pernah mendapat julukan orang terkaya pada jamannya pernah berkata, “Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia: orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.”

Nampaknya Mr. Bo ini tidak sendirian. Masih banyak manusia di atas bumi ini yang nasibnya sama. Waktu hidupnya habis untuk mengumpulkan harta namun tidak bisa atau tidak sempat menikmati apa yang telah dimilikinya. Menurut kitab suci, bisa memiliki dan sekaligus menikmati itu adalah karunia Allah. Nikmat hidup adalah anugerah ilahi. Jangan lupa yang satu ini.

Celakalah manusia yang selalu merasa kurang. Pikirannya ‘nggrangsang’, sulit merasa cukup. Gejalanya, sering iri hati kalau melihat kelebihan orang. Rasa amannya ada dalam harta bukan pada Tuhan yang memberi harta. Orang yang selalu merasa kurang akan sulit merasa cukup. Akibatnya tidak pernah bersyukur. Padahal rasa syukur adalah modal untuk menikmati hidup.

Setelah membaca renungan ini, coba pejamkan mata sebentar. Ambil nafas panjang dan selidiki hati ini. Apakah Anda dikuasai oleh keinginan atau Andalah yang menguasai keinginan? Apakah Anda termasuk orang yang mudah bersyukur atau selalu mengeluh? Jangan sampai nasib akhir hidup Anda sama seperti Mr. Bo alias orang kaya yang bodoh.

Tinggalkan Balasan