Banyak orang pasti penasaran atau bingung setelah mendengarkan nubuatan nabi Yesaya. Dalam koteks hidup yang penuh ketidak pastian, kekalahan, penderitaan, serta belenggu penjajahan, sebuah nubuat seperti ini dapat menyejukan hati dan memberi harapan “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

Tahun 733 SM Tiglath Pileser mengepung Damaskus, demikian juga dengan Israel. Mengalami kalah perang dan hidup dalam tawanan dapat membunuh harapan. Tinggal di pengungsian bertahun tahun bisa menimbulkan trauma hidup yang bekepanjangan. Hidup dari belas kasihan, mengais sisa makanan seperti binatang, tertindas, tersisih dan terhina. Lengkap sudah nasib hidup umat Allah pada masa itu. Dimana identitas kami sebagai umat Allah? Umat pilihan?

Jangan kuatir! Jangan juga kecewa. Allah tidak tutup mata terhadap penderitaan umat-Nya. Akan tiba waktunya Allah sendiri yang akan datang ke dalam dunia dan berperang demi mereka. Setelah menanti hampir lebih dari 700 tahun, Dunia bersukacita menyambut bayi ajaib yang datang dari sorga. Meski lahir di kandang yang kotor, namun ia bukan bayi yang hina. Meski lahir dalam bahaya, namun Ia bebas dari ancaman Herodes yang gila kuasa. Ia disebut dengan “sahabat orang berdosa” karena untuk itulah Ia datang ke dalam dunia – membebaskan manusia dari dosa.

Kehidupan dan karyanya menggenapi julukan yang diberikan kepada-Nya, mighty God atau Allah Yang Perkasa. Setan dan iblis takluk pada-Nya. Penyakit dan alam maut pun dikalahkannya. Angin ribut dan gelombang tunduk dengan perintah-Nya. Tidak ada yang dapat mengalahkan-Nya. Dia benar benar Pahlawan yang Perkasa-my super hero is Jesus. Semua lidah akan mengaku dan lutut akan bertelut bahwa Dialah Allah yang perkasa.

Aku bersyukur telah dipilih menjadi pengikut, murid, hamba, dan rekan sekerjanya. Sejak aku berjumpa dengan Dia, hidupku mengalami transformasi yang luar biasa. Heran? Aku sangat heran dengan kuasa-Nya. Kagum? Aku kagum dengan kasih-Nya yang tanpa batas, tidak memandang harta maupun rupa. Sejak berjalan bersama-Nya, hidupku penuh dengan makna, sukacita dan kemenangan yang luar biasa. Hidupku adalah saksi nyata akan kehebatan kuasa Allah yang perkasa. Bagaimana dengan Anda?

Tinggalkan Balasan