MEMAAFKAN, TETAPI HUKUM TETAP JALAN

Dikutip dari Tempo.com inilah kalimat bapak Arteria berkaitan dengan cekcok mulut dengan wanita anak yang mengaku jendral. Meski sudah memaafkan, Arteria menegaskan bahwa proses hukum tetap berlanjut. “Kan dia laporkan saya juga, ya kita buktikan saja siapa yang benar dan mana yang salah. Saya kan orang biasa, harus tahu diri. Makanya saya tahu diri hanya melalui jalur hukum lah saya minta perlindungan dan penegakan hukum,” kata dia.

Ada pelajaran tentang apa artinya memaafkan. To forgive is to let it go or to send away. Saat memberi maaf, anda sedang membiarkan rasa dendam atau resentmen meninggalkan hati anda. Dengan demikian tidak ada lagi rasa jengkel, pahit atau marah dalam hati. Jadi saat mengampuni anda sedang mengambil langkah berani dan bijak demi kesehatan rohani, tubuh dan jiwa. Mengampuni hukumnya wajib menurut kitab suci.

MENNGAMPUNI TIDAK BERARTI MEMULIHKAN KEPERCAYAAN

Mengampuni tidak langsung memulihkan kepercayaan. Saat suami selingkuh tiga kali lalu minta maaf, isteri bisa mengampuni tetapi belum tentu bisa mempercayai. Trust is earned, kepercayaan harus dibangun kembali, untuk itu perlu waktu yang lama.

MENGAMPUNI TIDAK HARUS MENUNGGU SAMPAI HUKUM DIRASAKAN ADIL

Pengampunan tidak harus menunggu sampai hakim ketok palu di pengadilan. Jika anda menunggu proses hukum, bisa bisa anda sudah mati duluan karena dendam dan kepahitan. Ingat kata Kitab Suci “Orang bodoh mati karena sakit hati”

MEMGAMPUNI TIDAK LANGSUNG HARUS MELUPAKAN

Bagaimana anda bisa melupakan wajah orang yang telah menikam perut anda atau membunuh anak anda? Rasanya terlalu sulit untuk bisa melakukannya. Namun anda masih bisa membebaskan hati dari amarah. Waktu akan menolong anda untuk memproses semuanya. Seperti luka di dahi saya, setiap kali menyentuhnya langsung teringat peristiwanya tetapi sudah tidak merasakan sakit karena lukanya sudah sembuh. Itulah pengampunan yang selalu menyembuhkan.

MENGAMPUNI TIDAK BERARTI MENYANGKALI RASA SAKIT DI HATI

Luka batin itu menyakitkan. Pengkhianatan itu menyisakan kepahitan. Direndahkan itu menyesakan dada. Semua adalah kenyataan yang harus diakui. Berapa lama anda akan menyimpan sakit hati itulah yang akan menentukan kualitas hidup. Saat anda menganpuni, anda tidak boleh membohongi diri seolah olah tidak terjadi apa apa. Katakan kepada Tuhan ‘sakitnya itu disini’ dan minta Tuhan mencabut semua sakit hati dan membalut luka batin. Tuhan sanggup melakukan, karena Dia bisa mengubah ratapaj menjadi tarian.

Tinggalkan Balasan