Namanya juga sedang ‘kepepet’ alias keadaan terjepit, apapun dilakukan demi mendapat jalan keluar. Uang di dompet tinggal 50 rupiah, beras tinggal satu gelas dan isteri hamil tiga bulan. Siang itu kami lapar karena sudah dengar perut keroncongan. Pulang kuliah langsung petik kangkung di belakang asarama pria, supaya bisa makan siang. Namun sayang saat masak nasi, tiba tiba kompor tidak bisa menyala. Ternyata minyak tanah sudah habis, dan uangpun juga tidak ada lagi. Uang 50 rupiah sudah dibelikan ikan pindang satu ekor. Aku melipat tangan dan berdoa memohon pertolongan dari Tuhan.

Tiba tiba teringat kisah Yesus mengubah air jadi anggur di desa Kana. Akupun segera ambil air di botol dan mengisikannya ke kompor. Puji Tuhan kompor langsung menyala. Haleluya. Hati senang wajah riang. Sambil menunggu nasi matang aku coba tiduran dan ngobrol sama istri. Setengah jam kemudian aku kembali ke dapur memastikan apakah nasi sudah matang. Puji Tuhan, ternyata nasih masih setengah matang. Ternyata kompor mati, dan air tetap air dan tidak berubah jadi minyak tanah. Haa..ha..ha… Akupun ketawa sendiri.
Aku bukan Tuhan…. dan aku tidak bisa memaksa Tuhan menuruti kehendaku.

Pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Pelajaran rohaninya luar biasa. Tidak semua yang kita inginkan, doakan akan segera menjadi kenyataan. Kehendak kita sering berbeda dengan kehendak Tuhan. Jangan pernah mengubah apa yang tidak bisa diubah. Serahkanlah kepada Tuhan apa yang diluar kemampuan kita untuk mengerjakannya. Terkadang Tuhan mengijinkan kita menghadapi kekurangan, karena disanalah kita akan melihat Allah yang mampu mencukupkan dengan caranya.

Bagaimana dengan Anda? Hati galau, pikiran kacau? Jiwa resah hati gelisah? Serahkanlah segala kuatirmu kepada Allah, karena Dia mengerti, peduli dan memahami situasi. Pertolongannya tidak pernah terlambat dan tidak pernah salah alamat. Tetap percaya dan berserah meski jawaban doa tidak sesuai dengan keinginan. Allah tidak pernah salah memberi jawaban.

Tinggalkan Balasan