Sikap kita terhadap hidup akan menentukan pendekatan kita pada hidup. Sama seperti sambel terasi yag menempel di kumis, kemanapun anda pergi, semua akan berbau terasi. Selama terasi belum dibersihkan, baunya akan mengikuti anda. Orang yang sudah negatif dengan diri sendiri, biasanya akan mudah berpikir negatif terhadap orang lain. Demikianlah juga sebaliknya.

Masih ingat dengan Gideon? Seorang pemuda yag negatif dengan diri sendiri, negatif dengan keadaan, dan negatif dengan masa lalu. Saat disambangi oleh malaikat Tuhan dengan sapaan ‘salam hai pahlawan yang gagah perkasa’ ia tidak yakin dengan apa yang didengarnya.

Jawab Gideon kepada-Nya: “Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian.”

Banyak kegagalan dan kesalahan terjadi dalam hidup karena kita bersikap negatif terhadap hidup. Ketahuilah bahwa pikiran anda itu seperti magnet. Apa yang anda pikirkan, itulah yang akan mendatangi Anda. Jikapikiranmu selau berpusat pad yang buruk dan negatif, itulah yang kan terjadi. Sebaliknya jika selalu memikirkan apa yang baik, mulia, bijak, dn suci maa damai sejahtera yang melampaui segala akal akan memerintah hidup Anda. Ini kata Kitab Suci.

Perihal sikap positif dalam hidup, bergurulah pada rasul Paulus yang menjadi idola saya sejak saya membaca surat-suratnya. Salah satu lensa hidup yang saya pakai untuk mendekati hidup adalah ‘Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja sama dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihinya…” Semakin banyak kebenaran yang kita miliki, semakin bagus pendekatan kita terhadap masalah kehidupan. Maka berbahagialah orang yang rajin merenungkan firman dan menjalankannya.

Tinggalkan Balasan