Bukan hanya es batu yang bisa habis mencair karena dibiarkan terlalu lama di ruang terbuka. Harapan hidup juga bisa sirna karena menunggu terlalu lama. Tanda-tandanya sangat jelas. Manakala kata “ya nasib ya nasib” sudah terucap dari bibir Anda, saat itulah kita pasrah dengan keadaan dan menyerah dengan garis hidup. Dampaknya bisa sangat berbahaya bagi semua aspek kehidupan. Orang yang menyerah dengan nasib biasanya akan kehilangan gairah hidup, cenderung menjadi orang yang pesimis, dan selalu negatif dengan kenyataan hidup.

Orang lumpuh itu sudah terlalu lama menunggu keajaiban kesembuhan ilahi. Sudah 38 tahun ia menanti di tepi kolam “ajaib” yang konon bisa menyembuhkan segala penyakit, asal bisa menceburkan diri saat airnya bergelombang.Saat Penyembuh Ajaib dari Nazaret mendatanginya dan mengajukan pertanyaan, “Maukah engkau sembuh?” ia tidak berani menjawab. Yang ia katakan justru alasan, “Bapak, tidak ada orang di sini yang memasukkan saya ke dalam kolam waktu airnya berguncang. Dan sementara saya menuju ke kolam, orang lain sudah masuk lebih dahulu.” Ini adalah jawaban orang yang sedang putus asa. Selalu ada alasan untuk membenarkan keputusasaannya. Salah satu kebiasaan orang putus asa adalah menyalahkan keadaan, kawan, atau masa lalu bahkan nenek moyang.

Imam Zakharia itu sudah tua, istrinya yang bernama Elisabet juga sudah tua. Menurut sumber sejarah yang banyak dipercaya, umur sang imam hampir mendekati 300 tahun. Dibalik kehidupan yang saleh, taat, dan setia melayani, mereka telah lama tidak punya anak. Salah satu penyebabnya adalah kemandulan kandungan isterinya. Pada zaman itu, seorang wanita yang mandul merupakan sebuah aib yang memalukan. Entah berapa banyak airmata yang tumpah, hanya mereka berdua yang tahu. Begitu lama mereka menyembunyikan rasa malu dan rendah diri. Yang jelas, waktu menunggu yang terlalu lama itu telah membuat sang imam sulit untuk memercayai berita keajaiban yang dibawa oleh utusan Allah. Saat malaikat mengatakan bahwa Elisabet akan mengandung dan memiliki anak, Zakharia berkata, “Do you expect me to believe this? I’m an old man and my wife is an old woman.”

Jika harapan sudah pupus, manusia akan mengalami kesulitan untuk memercayai kemungkinan keajaiban baru. Sangat sulit menemukan pintu saat kita menghadapi jalan buntu. Berat rasanya untuk berharap saat hidupdipenuhi dengan rasa kecewa. Dapatkah kita membuat jalan yang baru atau mencari pintu yang terbuka? Membarui iman merupakan jalan keluar yang baik. Iman akan melahirkan pengharapan dan pengharapan akan menguatkan iman.

Mukjizat masih terjadi, ya … keajaiban ilahi itu masih bisa dialami oleh setiap orang yang percaya. Ibu Rod Baker ditinggal selingkuh suaminya selama 11tahun. Bukan hanya itu, ia akhirnya harus menerima kenyataan perceraian. Ia sudah pasrah dengan keadaan. Namun, pada malam natal itu, ia berlutut di depan altar dan membarui keyakinannya. Dengan harapan yang tersisa, ia mulai menyebut nama suaminya dan memohon agar Allah mengembalikan dia. Tanpa di sangka, malam itu ada seorang lelaki masuk ke gereja yang sama dan berlutut meminta ampun atas dosa- dosanya. Singkat cerita, mereka dipertemukan dalam doa dan menikah kembali. “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Diambil dari buku Making Life Better)

Tinggalkan Balasan