Pernahkah anda mengalami ‘tragedi buruk’ dalam kehidupan. Masalah datang silih berganti tanpa mengenal waktu dan situasi. Satu masalah belum selesai, masalah baru sudah datang. Orang sering bilang ‘sudah jatuh ketimpa tangga’. Tetangga bilang ‘nasib sial, teman bilang ‘bad luck’, musuh bilang ‘kena kutuk’.

Mereka yang tidak pernah mendengar atau membaca kebenaran Kitab Suci akan dengan mudah menghakimi dan memojokan anda. Maklum, masih banyak orang yang SMS, ‘Senang Melihat and Susah, atau Susah Melihat and Senang’. Namun bagi kita semua yang pernah mendengar ‘Kita tahu sekarang bahwa Tuhan turut bekrja sama dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi-Nya, justru mensyukuri semua yang sedang terjadi. Karena dalam kamusnya Allah tidak ada istilah sial.

Janda sang nabi yang baru ditingal mati suami dan diwarisi hutang bisa mengaminkan kebenaran Roma 8:28. Suasana dukacita belum selesai, air mata belum kering, tiba tiba didatangi ‘Debt Collector” yang mau mengambil kedua anaknya dijadikan budak untuk membayar hutang suaminya. Nasibnya mirip apa kata orang ‘Sudah jatuh ketimpa tangga pula’. Namun iman sang janda mengubah segalanya dalam kehidupan nyata.

Wanita beriman itu tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam duka dan berlinang air mata. Dalam situasi ‘desperate’, dia tahuAllah tidak membiarkannya. Dengan segala keterbatasan dimiliki, ia menjumpai seorang nabi Allah spektakuler yang bernama Elisa. Tanpa banyak basa basi ia langsung curhat demi menyampaikan pergumulannya. Dan dengan cara yang sangat luar biasa wanita itu diberi arahan untuk meminjam buli buli sebanyak banyaknya dan menuangkan minya zaitun yang sedikit tersisa.

Ada orang bilang janda nabi itu ‘sudah jatuh ditimpa tangga, tetapi saya bilang ‘sudah jatuh ketimpa keajaiban’. Inilah nasib akhir orang yang beriman, tidak takut meminta, setia menjalankan kebenaran dan berani mengambil tindakan ketaatan.

Mujizat adalah produk iman dan ketaatan. Janda anak dua itu melakukan printah nabi tanpa banyak bertanya. Hasilnya luar biasa. Minyak zaitun yang tinggal sedikit itu mengalir tanpa henti sampai kehabisan buli buli. Hasil penjualan minyak bisa untuk membayar hutang dan hidup dengan kedua anaknya menghadapi musim kepalaran.

Tinggalkan Balasan