Banyak yang bilang kalau wajahnya kurang meyakinkan atau sulit dipercaya. Bukan hanya satu orang yang berkata, tetapi banyak bahkan seorang rohaniawan dari Korea juga mengatakan hal yang sama. Namun sayang mereka yang terlanjur ‘menghakimi’ mukanya pak Daud, semuanya meleset. Keberhasilan hamba Tuhan ini dalam pelayanan layak diacungi dua jempol.

Bermodal dua jemaat, ia mulai membuka pelayanan di daerah malang selatan. Awalnya ia hanya datang ke desa itu dua kali seminggu, namun karena pelayanannya berkembang, ia harus mengontrak rumah. Tidak mudah menjalankan pelayanan di tempat itu karena sering diresolusi oleh warga yang tidak setuju. Kegigihan, tekad dan perjuangan imannya telah melahirkan 3 buah tempat pelayanan yang sangat berhasil.

Hamba Tuhan yang satu ini tidak malu berjualan ikan dari rumah ke rumah. Ia bahkan pernah jualan buah salak di pinggir jalan. “Habis bagaimana lagi pak, uang persembahan hari minggu hanya 15 ribu, Untuk beli bensin saja tidak cukup, apalagi untuk makan. Saya tidak ingin melihat anak isteri saya terlantar, saya malu sama Tuhan.” Ia menjelaskan. Ia menjalani panggilan hidup melayani Allah sambil memeras keringat menafkahi anak dan isteri yang dicintainya.

Yang lebih mengherankan adalah tekadnya untuk berjuang dan mempersembahkan hidupnya bagi kerajaan Allah. Hamba Tuhan ini berhasil membangun gedung gereja dengan ‘modal dengkul’. Ia sering berlutut memohon Allah mencurahkan dana untuk membangun tempat ibadah yang lebih baik. Ia bersyukur kepada Tuhan karena ada orang dari Korea yang bersedia memberikan bantuan 50 juta. Namun orang tersebut sangat meragukan kesanggupan hamba Tuhan ini. Gara gara melihat raut wajahnya.

Seiring dengan waktu, dibarengi dengan kerja keras, selesailah bangunan tempat ibadah yang ia impikan. Menurut bendahara pembangunan, jumlah uang yang telah dihabiskan untuk membangun jauh melebihi uang yang diberikan oleh donatur dari Korea. Betapa terkejutnya sang donatur waktu melihat gedung itu berdiri megah dan menelan dana yang besar. Sejak saat itu ia mulai percaya dan memberi lebih banyak lagi untuk pembangunan ibadah.

Orang bisa menilai isi buku dari sampulnya, tetapi jangan pernah menilai orang dari wajahnya. Simak dengan baik lagu yang berkata “Kau bukan Tuhan yang memandang harta, Kau bukan Tuhan yang melihat rupa…” Orang boleh meragukan wajah Anda, yang penting Anda sendiri tidak meragukan diri Anda. Manusia boleh meremehkan Anda namun jangan sampai Anda meremehkan kekuatan penyerahan dan kesetiaan kepada Tuhan.

Nabi Samuel sedikit meremehkan kemampuan Daud. Bahkan ayahnya sendiri meragukan kemamampuannya, karena melihat perawakan tubuh dan wajahnya, namun Allah telah memilihnya dan mempercayakan tugas dan tanggung jawab yang besar. Allah melihat hati, bukan wajah, gelar, ijazah atau trophy yang pernah kita miliki. Selama kita jaga hati, setia, kerja keras, dan tekun, Allah akan membuat kita berhasil. Belajarlah dari pak hamba Allah dari Malang selatan ini. Memang orangnya kalem, tidak banyak bicara dan mahal senyum, namun itu tidak menjadi penghalang bagi Allah untuk memakainya menjadi hamba yang berguna.

Saat kutanyakan apa mimpi yang masih tersimpan di hati, dengan yakin pak Daud berkata “Saya ingin membangun rumah jompo untuk menolong para lansia yang terlantar.” Sangat mulia hatinya. Dari sorot matanya terpancar sukacita yang lahir dari makna hidup yang telah didapatkannya. Meski tidak banyak orang yang mengenalnya, keberhasilannya tidak pernah diekspos media atau tampil di sosmed, namun hamba Allah ini pasti akan dikenal di sorga. Orang boleh saja meragukan rupa, namun Tuhan bisa memakai siapa saja. “Sabaslah hambaku yang baik….”

Tinggalkan Balasan