“Biarlah Ia makin bertambah dan aku semakin berkurang” adalah ucapan nabi besar Yohanes Pembaptis. Tidak mudah untuk menerapkannya dalam kehidupan seorang ‘pria’ yang driven by pencapaian dan lahir sebagai makhluk ‘haus penghargaan’. Keberhasilan sang nabi tidak diukur dari jumlah pengikut umat yang dibaptis, popularitas atau jumlah pundi pundi. Namanya masih sering disebut setelah 2000 tahun karena tekad hidup, penyerahan dan keberhasilannya mengalahkan egonya.

Beberapa hal yang bisa membunuh karakter kita sebagai ‘hamba Allah’ adalah keinginan ego untuk ‘berkuasa, popularitas, pengakuan dan rasa aman. Ketika apa yang kita lakukan atas nama pelayanan hanya untuk memberi makan ‘ego’, sebenarnya kita sedang memuliakan diri sendiri, bukan memuliakan nama Allah meski diakhir doa terdengar kalimat ‘to God be the glory’

Tidak sedikit pemimpin yang tersandung dengan ‘ego’ dan tidak bisa ‘finish well.’ Raja Saul dilengserkan karena lebih memilih ‘power’ daripada ‘ketaatan’. Simson lebih memilih bertekuk lutut di bawah ketiak Delila. Ahab dan Izebel takut kehilangan pengaruh dan pengakuan, hidup mereka habis untuk mengejar nabi Elia. Masa tua raja Daud kurang sedap didengar karena masalah wanita.

Kita semua harus waspada, karena ego sering bersembunyi di balik kemunafikan. Bagaimana tidak? Dalam pemilihan ketua sinode ada yang bermain uang, fitnah dan menutupi dosa. Lebih ngeri lagi waktu mau memilih mereka berdoa dengan khusuk minta ‘Roh Allah’ yang menentukan dan memilih pemimpin namun tiga bulan sebelumnya ‘tim sukses’ sudah bagi bagi handphone, tiket pesawat gratis dan lain sebagainya. Mengatas namakan Allah demi ego adalah “penistaan” WASPADALAH!!!

Tinggalkan Balasan