Ada seorang penafsir yang mengatakan bahwa Rasul Paulus pernah menderita penyakit kanker mata. Ia memakai istililah ‘utusan iblis yang menggocoh aku. Penyakit itu sangat mengganggu kinerjanya sebagai pemberita Kabar Baik. Sebagai orang beriman ia telah berdoa dan memohon keajaiban dari Allah namun penyakitnya tidak kunjung sembuh. Dari situlah ia membingkai kembali ‘kelemahan’ dalam hidupnya sebagai ‘kebanggaan’ yang layak untuk dibagikan.

KELEMAHAN MENYADARKAN KITA

Rasul Paulus menyadari bahwa Tuhan bisa memakai ‘penyakit’ untuk kebaikan kita. Kebaikan macam apa? Supaya kita menyadari bahwa manusia punya kelemahan, itulah sebabnya harus selalu mengandalkan Tuhan. Saat kita sadar bahwa diri ini punya kekurangan dan kelemahan, kita akan hidup dalam kerendahan hati, dan tidak akan pamer kekuatan, kekayaan atau ketenaran.

“Tetapi supaya saya jangan terlalu sombong karena penglihatan-penglihatan yang luar biasa itu, saya diberikan semacam penyakit pada tubuh saya yang merupakan alat Iblis. Penyakit itu diberikan untuk memukul saya supaya saya tidak menjadi sombong.”

KELEMAHAN MEMBUAT KITA BERGANTUNG PADA KASIH KARUNIA

Ada banyak pergumulan hidup yang tidak bisa selesaikan dengan harta kekayaan, jabatan, kekuasaan atau ketenaran. Ada yang uangnya tidak bisa habis dimakan tujuh turunan, namun pernikahannya menghadapi kehancuran. Uang yang banyak tidak bisa menyelamatkan pernikahannya. Hanya kasih karunia yang bisa menyelesaikan segalanya. Ada yang punya kuasa, namun harus rela meghabiskan waktu di rumah sakit, dan jabatannya tidak bisa memberi kesembuhan.

Tiga kali saya berdoa kepada Tuhan supaya penyakit itu diangkat dari saya. Tetapi Tuhan menjawab, "Aku mengasihi engkau dan itu sudah cukup untukmu; sebab kuasa-Ku justru paling kuat kalau kau dalam keadaan lemah." Itu sebabnya saya lebih senang membanggakan kelemahan-kelemahan saya, sebab apabila saya lemah, maka justru pada waktu itulah saya merasakan Kristus melindungi saya dengan kekuatan-Nya. (II Kor. 12:8-9)

POSISIKAN DIRIMU HIDUP DALAM KASIH KARUNIA

Mana yang anda pilih; beban hidupmu diangkat oleh Tuhan, atau diberi kekuatan ekstra oleh Tuhan supaya mampu menanggung beban? Saya memilih yang kedua. Saya memilih untuk mendapat kekuatan ‘tenaga dalam’ dari Tuhan sehingga mampu memikul setiap beban hidup. Untuk itu saya akan terus memposisikan diri hidup dalam kasih karunia-Nya. Terus percaya dan merendahkan diri di hadirat-Nya.

Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. (Yohanes 1:16-17

Tinggalkan Balasan