Belajar mengasihi musuh itu hukumnya wajib. Ini perintah Tuhan, bukan perintah dari musuh. Kalau Tuhan yang memerintahkan berarti ada berkat dibalik permusuhan. Yesus sendiri mengalami permusuhan dari Farisi, Saduki dan bahkan pengkhianatan dari muridnya. Pasti ada berkat dibalik perintah ini. Fakta membuktikan, tidak ada hidup tanpa permusushan atau perselisihan.

Mengasihi musuh adalah tindakan mulia, bukan kebodohan. Berani mengasihi musuh bebarti sedang mengambil jalan tinggi. Saat kita mengasihi musuh kita sedanng memuliakan Bapa kita di sorga. Maka jangan kaget jika saat kita mengasihi musuh, berarti kita sedang mepraktekan nilai kehidupan sorgai yang paling tinggi.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:44-45)

Mengasihi musuh harus kita praktekan dalam kehidupan karena sering kali Tuhan memakai ‘musuh’ untuk membentuk karakter kita. Kualitas kasihmu seperi apa? Lihalah saat dirimu sedang difitnah, dilecehkan dan direndahkan orang. Apakah kita orang yang reaktif atau proaktif? Apakah kita meresponi kenyataan dengan rasa atau prinsip kebenaran? Masih sanggup mengampuni dan mendoakan mereka yang telah melukai hatimu?

Allah sering memakai musuh untuk mengantarkan kita pada rencana-NYA yang mulia. Yusuf paham sekali dengan semua ini saat ia mengatakan kalimat ini pada orang orang yang pernah bikin susah hidupnya “Kalian mereka-rekakan yang jahat, tetapi Tuhan memakai semuanya itu untuk kebaikan kalian.” Nampaknya Yusuf menyadari dari awal, bahwa jalan menuju ke puncak memang tidak mudah. Harus ada tikungan dan tanjakan terjal. Jangan mengeluh dan jangan membenci. Jalani saja nanti Allah yang akan berperkara.

Permusuhan juga sering diijinkan untuk menguji visi dan misi hidup ini. Komitmen kita pada panggilan Allah akan teruji oleh tantangan dan permusuhan. Bergurulah pada Nehemia. Visinya untuk membangun tembok Yerusalem mendapatkan perlawanan dari banyak orang. Namun ia tidak sedikitpun punya niat untuk berhenti dan membatalkan niatnya. Mengapa? Nehemia tahu bahwa visi itu datangnya dari Allah. Ia tahu Allahnya akan menyertai. Musuh menguji visi anda. Maka kasihilah musuhmu

Tinggalkan Balasan