Maukah Anda menanggung derita akibat kesalahan orang lain dan demi kebaikan orang tersebut? Tentu saya jawabannya adalah TIDAK! Tetapi kenyataan sering memaksa untuk berkata YA.


Yusuf Bin Yakob adalah saksinya. Ia pernah dimusuhi dan dijual oleh saudara saudaranya menjadi budak. Masuk penjara tanpa diadili akibat fitnah tetapi akhirnya menjadi orang nomer dua di negara adidaya. Dengan hikmatnya yang luar biasa ia bisa menyelamatkan warga Mesir dan saudara saudaranya menghadapi kelaparan. Saat saudara saudaranya datang untuk meminta maaf ia berkata:


Kalian telah bermupakat untuk berbuat jahat kepada saya, tetapi Allah mengubah kejahatan itu menjadi kebaikan, supaya dengan yang terjadi dahulu itu banyak orang yang hidup sekarang dapat diselamatkan. (Kekadian 50:20)


Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kalimat diatas? Rencana Allah sering melibatkan pengalaman buruk. Namun dibalik semuanya itu ada kebaikan. Tuhan memang maha baik kepada kita, tetapi tidak berarti kita akan bebas dari kesulitan pengalaman buruk. Sering kali ‘pengalaman buruk’ adalah bagian dari kebaikan-Nya.


Untuk itu belajarlah dari Yusuf. Melihat keburukan dari kaca mata kebaikan Allah. Membingkai pengalaman pahit dengan kebenaran Firman yang selalu ‘manis’. Memakai kacamata ilahi untuk menterjemahkan kenyataan. Melihat masa lalu dengan masa depan, bukan sebaliknya. Menghadapi kegelapan dengan terang kebenaran. Dengan demikian kita bisa tersenyum dan berkata:


Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja sama dengan segala perkara untuk kebaikan kita yang mengasihi-Nya dan hidup sesuai dengan rencana-Nya

Tinggalkan Balasan