“Pak Paulus doakan saya pak. Mengapa semua jadi begini. Mengapa suamiku pergi terlalu cepat”? Sambil mengusap wajah suami yang sudah dingin membiru, sang isteri bertanya kepadaku. Akupun tidak kuasa menahan air mata. Sahabatku telah pergi dengan meninggalkan isteri dan anak anak yang baru menginjak masa remaja. Suasana duka begitu terasa, terlalau banyak kenangan indah dan janji yang belum terlaksana.

Semalam, kedua mataku sulit terpejam, pikiran ini terlalu banyak bertanya. Bernarkah Allah maha bijaksana? Mengapa sahabatku pergi saat anak anak masih membutuhkan kehadiran ayahnya? Mengapa harus menghadap Yang Maha Kuasa, padahal ia sedang berada dipuncak karya demi menjalani panggilan hidupnya. Umur 48 masih terlalu muda untuk menjadi penghuni alam baka.

Ada kegelisahan di hati yang sudah lama bersembunyi. Semua itu terjadi karena terlalu banyak kenyataan di bawah matahari yang sulit kupahami. Mengapa maut menjemput mereka yang sehat walafiat, sedangkan mereka yang sudah bosan hidup justru dilewati malaikat maut. Mbah Bonah tiap malam bersujud memohon jadwal panggilan supaya segera pulang ke rumah Bapa, namun sampai hari ini masih menunggu tanpa kepastian. Padahal tanah kubur dan peti kematian telah disiapkan.

Mungkin ini yang namanya misteri ilahi. Hanya sorga yang bisa menjawab dengan pasti. Sudah lama tersurat, hidup ini bagaikan uap, muncul kemudian lenyap. Seperti bayang bayang yang mudah hilang. Kita semua hanyalah seorang musafir yang singgah minum, numpang lewat. Berhenti sejenak dan merenung. Jika jantung masih berdenyut, sebaiknya segera bersujud. Lipat tanganmu dan syukuri apa yang ada di depan mata.Betapa singkat Kautentukan umurku! Bagi-Mu jangka hidupku tidak berarti.



Sungguh, manusia seperti hembusan napas saja, hidupnya berlalu seperti bayangan. Semua kesibukannya sia-sia belaka; ia menimbun harta, tapi tak tahu siapa akan memakainya. Sekarang apa yang kunantikan, ya TUHAN? Pada-Mulah harapanku.

Tinggalkan Balasan