Namaku Dua Triliun, alamat sementara masih saya rahasiakan, demi menghindari Covid-19. Meski aku sendiri tidak punya niat untuk jadi populer, tetapi aku harus bisa terima nasib. Akhir akhir ini aku dibicarakan di medsos, TV, hingga media cetak. Gara gara aku ada banyak yang tidak bisa tidur, susah makan dan jatuh sakit. Itu semua bukan karena salahku. Sama sekali aku tidak punya ‘agenda pribadi’. Sejak dulu aku memang netral. Aku tidak pernah punya niat jahat atau niat baik. Semua tergantung pada yang memiliki atau yang menjadi tuanku. Aku hanyalah ‘hamba’ atau alat semata.

Terkadang aku tidak habis pikir dengan yang namanya manusia. Kalau mereka mendengar namaku ‘Dua Triliun’, mereka semua pada bangun, mata terbelalak, hati dag dig dug, pikiran berkelana sambil menduga ‘dari mana datangnya’ dan ‘siapa yang akan menerimanya’. Kenapa pada ribut sampai urusan polisi segala? Padahal aku tenang tenang saja. Kasihan sekali makluk yang namanya manusia.

Ada banyak orang yang identitasnya dikaitkan dengan aku, padahal aku tidak punya hubungan darah dengan mereka. Tidak sedikit yang merasa diri berharga kalau bisa memiliki, mengantongi dan menyimpan aku. Mereka tidak menyadari bahwa aku ini benda mati, dan mereka adalah ciptaan Tuhan yang istimewa. Aku dibuat dari kertas oleh tangan tangan manusia, sedangkan mereka jauh lebih mulia. Terbuat dari tanah liat, dihembusi nafas Allah dan hasil Maha Karya Allah yang Mulia.

Menurut berita, ada banyak pertengkaran, peperangan, pembunuhan, perceraian bahkan perpecahan gara gara memperebutkan aku. Menurut survei, sebelum aku ada di dunia, manusia bisa hidup lama sampai ratusan tahun, namun sekarang banyak yang bunuh diri gara gara aku. Padahal aku hanyalah alat transaksi yang bersifat sementara. Konon, sangking parahnya hati manusia untuk mendapatkan aku, sampai Tuhan sendiri menuliskan pesan waspada ‘Cinta akan uang adalah akar segala kejahatan’. Padahal aku tidak pernah mencintai mereka.

Aku hanyalah alat atau hamba. Namun tidak sedikit yang menjadikan aku sebagai tuan, majikan bahkan tuhan. Mereka tidak menyadari bahwa yang namanya alat, itu bisa berpindah tangan. Aku sering ‘pergi ke lain hati, tiga kali dalam sehari. Di tangan orang baik, aku bisa menjadi alat kebaikan. Di tangan orang jahat aku bisa mendatangkan kematian. Maka, tolong jangan terlalu berfokus mengguncingkan namaku. Masih banyak nyawa yang perlu dilindungi dan diselamatkan dari Covid-19. Jangan sampai gara gara aku si Dua Triliun, semua perahtian terarah kepadaku hingga lupa tugas masing masing.

Tolong ‘leave me alone’. Biarkan aku menyendiri di dalam sudut kamar ini. Sekali lagi, aku menasehati anda semua. Jangan jadikan aku tuan, biarlah aku menjadi hamba atau alat. Tetaplah menyembah Allah bukan Menyembah aku. Aku sering dengar dari mimbar gereja atau masjid “Jangan ada ilah lain dari hadapanmu’. Sembahlah Tuhan saja, jangan menyembah uang. Mohon maaf kalau aku melukai hatimu.

Salam dari Dua Triliun

Tinggalkan Balasan