Mesalahan terbesar seorang isteri adalah berusaha mencintai suami dan lupa merasakan cintanya. Kesalahan terbesar anak sulung adalah hidup di dalam rumah bapanya, bekerja keras untuk menyenangkan bapanya tetapi lupa menikmati apa yang dimiliki oleh bapa yang jelas mengasihinya tanpa batas.

Anak saya tidak perlu minta ijin untuk mengambil makanan apa saja yang ada di dalam almari es. Ia tidak harus mendapatkan approval atau persetujuan dari saya untuk duduk di sofa atau menyalakan TV. Semua yang ada di rumah boleh ia nikmati. Lain halnya dengan pembantu, ia tidak bisa menikmati keistimewaan yang dimiliki oleh anak.

Kesalahan terbesar yang dimiliki oleh kebanyakan orang adalah berusaha menyenangkan Allah namun lupa menikmati berkat yang Ia sediakan. Sedikit banyak kita menjadi kaum legalis. Kita bekerja keras melakukan apa yang dipercaya dapat menyukakan hati Allah. Kita sering menyanyi “aku mengasihi Engkau Yesus dengan segenap hatiku”, namun kita lupa duduk diam dalam kasih-Nya. Kita berpikir bahwa kita harus kerja keras menyenangkan hati-Nya supaya kita diberkati atau bahkan diselamatkan. Sama seperti Marta yang sibuk menjamu dan berusaha menyenangkan Yesus, ia kehilangan kesempatan duduk di kaki Yesus dan menikmati kehadiran-Nya.

"Tetapi Marta sibuk sekali dengan pekerjaan rumah tangganya. Ia pergi kepada Yesus dan berkata, "Tuhan, apakah Tuhan tidak peduli Maria membiarkan saya bekerja sendirian saja? Suruhlah dia menolong saya!""Marta, Marta!" jawab Tuhan. "Engkau khawatir dan sibuk memikirkan ini dan itu; padahal yang penting hanya satu. Dan Maria sudah memilih yang baik, yang tidak akan diambil dari dia." Lukas 10:40-42. 

Untuk bisa menikmati kasih Allah, kita tidak harus sibuk duluan melakukan pekerjaan yang dianggap menyenangkan hatinya. Untuk menikmati kuasa-Nya, tidak harus puasa tujuh hari tujuh malam.

Datang saja ke hadirat-Nya dengan ucapan syukur. Nyanyikan lagu pujian, duduk diam di kaki-Nya dan rasakan kasih-Nya yang dapat menyembuhkan, memulihkan, membebaskan dan menguatkan iman. Jangan menunggu sampai dianggap ‘layak’. Karena saat kita menganggap diri layak, justru kita akan dianggap tidak layak. Anak yang terhilang itu merasa tidak layak untuk pulang ke rumah bapanya. Ia tidak menyangka bahwa bapanya sudah lama menunggu di depan rumah.

Tiap hari ia menantikan kedatangan puteranya. Itulah sebabnya saat ia melihat anaknya datang, ia lari menemui, merangkul, mencium dan menyambutnya. Bapa kita di sorga telah lama menanti kehadiranmu. Datanglah di kakinya sekarang juga. Katakan, “Bapa aku mengasihimu, biarkanlah aku menikmati kasih-Mu sekarang ini”

Satu pemikiran pada “JANGAN LUPA MENIKMATI

Tinggalkan Balasan