Kemurahan hati Almarhum Bpk. Akidi Tio dan keuarga besarnya menjadi ‘Head Line News’ media electronik, cetak dan medsos. Sumbangan untuk penanganan Covid-19 dengan jumlah 2 triliun itu telah membuka mata warga Indonesia. Ada yang berdecak kagum, ada yang tersenyum bangga, ada yang bersyukur kepada Allah ada pula yang ‘mlongo’ bertanya tanya.

Saya sungguh bangga melihat berita ini, kalau ada anak bangsa yang tergerak memberi sumbangan pada Ibu Pertiwi yang sedang bersusah hati karena airmata berlinang akibat virus Covid-19. Lebih bangga lagi karena yang memberi ini tidak ada banyak kata, tidak suka berwacana, tidak banyak omong tetapi langsung bertindak. Lebih kagum lagi, keluarga besar Alm. Akidi dan anak cucu adalah ‘kelompok anak bangsa yang terkadang mengalami ‘verbal abuse’, dipandang sebelah mata, dan sering jadi ‘kambing hitam’. Namun kebesaran hati mereka telah membuka mata saya. “Yang namanya kebaikan itu tidak pernah memandang kondisi hati, wajah, suku bangsa atau agamanya apa.

Menurut berita yang saya dengar dan baca, keluarga ini memang keluarga yang suka berbagi. Bahkan waktu memulai merintis usaha di Banda Aceh, para tetangganya mengakui kalau almarhum adalah sosok yang suka berbagi. Makanya saya tidak kaget, karena orang yang berani memberi saat memiliki sedikit, ia tidak akan mengalami kesulitan untuk berbagi saat dipercaya banyak oleh Tuhan. Ia tidak menunggu nanti kalau sudah punya banyak baru berbagi. Untuk menjadi orang yang murah hati, tidak perlu menunggu nanti kalau sudah menjadi konglomerat atau milioner.

Ada yang menarik dalam berita tv, pemberian sumbangan 2 triliun itu diberikan melalui dokter keluarga Akidi Tio. Saya menduga bahwa keluarga dermawan ini sudah memeluk prinsip memberi seperti yang diajarkan oleh Kitab Suci ‘Kalau tangan kanan memberi, jangan sampai tangan kiri mengetahui’. Memberi tanpa pamrih. Memberi kebaikan demi kebaikan bukan untuk nama baik. Maka jangan heran jika rejeki dari Allah selalu dilimpahkan.

Mari kita meneladani kebaikan keluarga besar bapak Akidi. Di saat negara membutuhkan pertolongan, berikan sesuatu yang bisa kita berikan untuk meringankan saudara saudara kita yang sedang membutuhkan. “Jangan bertanya apa yang negara berikan untukmu, tetapi tanyakan, apa yang bisa anda berikan untuk negaramu”. Sati paket sembako untuk tetanggamu yang sedang isolasi mandiri akan sanagat berarti. Luangkan waktu 5 menit berdoa bagi bangsa akan sangat berguna. Atau, mentaati ptotokol kesehatan 5 M untuk pencegahan penularan itu sangat diperlukan saat ini.

Tinggalkan Balasan