Gara gara mulut suka mengomel, umat Israel tidak bisa memasuki Tanah Perjanjian, kecuali Yosua dan Kaleb serta anak anak yang berumur di bawah 20 tahun. Pengalaman tragis yang layak dijadikan pembelajaran iman. Untuk itu waspadai sikap hati dan setiap ucapan.


Keluhan sering kali datang dari rasa kecewa. Jika dibiarkan, bisa berkembang menjadi persungutan. Saat hati kecewa kemudian dibumbui dengan keinginan memberontak, lahirlah persungutan atau ‘murmuring’ yang membuat Allah merasa ‘dinista’. Bukankah mereka telah melihat keajaiban penyertaan dan pemeliharaan Allah selama dalam perjalanan dari Mesir menuju Tanah Impian?


Pemberontakan itu lahir dari ketidak percayaan yang disulut oleh kekecewaan. Saat manusia sudah tidak lagi percaya pada janji janji Tuhan, hidupnya akan dipenuhi dengan kegalauan hati dan keluhan hidup. Mereka tidak siap menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan. Tidak mampu menterjemahkan kenyataan adalah awal kekecewaan.


Satu satunya cara untuk membalikan sikap mengomel adalah mengembalikan kepercayaan kita pada Tuhan. Namun jika setiap hari hidup dengan pencemooh, orang negatif, tukang gosip, negative thinker, bisa dipastikan akan hanyut dalam pikiran dan budaya mereka. Maka putuskan sekarang juga untuk tidak berdiri di jalan orang berdosa, berjalan dengan orang fasik. Jangan pula terlalu sering duduk dengan pencemooh.


Waspadai hati dan mulut ini. Jangan sampai kita kehilangan kesempatan menikmati janji janji ilahi gara gara salah mengambil posisi. Jangan samoai rencana Allah batal lantaran salah pergaulan, menolaj kebenaran dan lebih percaya hoak dan kata orang. Masa depan kita tidak ditentukan oleh apa kata orang, tetapi apa kata Tuhan.

Tinggalkan Balasan