Segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu tertawa dan ada waktu meneteskan airmata. Ada waktu menghadapi kemenangan, ada pula saatnya menghadapi kekalahan. Keduanya diijinkan lewat dalam hidup kita. Yang terpenting adalah bagaimana sikap kita saat diijinkan melalui panca roba kehidupan.  

Ketrampilan kita mengelola sikap akan menentukan kualitas hidup dalam menghadapai perubahan suasana.  Untuk itu kita harus belajar dari kebenaran Firman Allah yang berkata “Segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya”.  Jika  kita mengetahui bahwa Allah turut bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihinya, hati ini jangan dibiarkan gelisah dan mengembara dalam tanda tanya “Mengapa semua ini menimpa hidup saya?” Kegagalam menterjemahkan kenyataan dengan kebenaran bisa membuat manusia mengambil jalan pintas yang membawa celaka.

Mari kita belajar dari raja Daud. Saat ia dikhianati oleh Absalom anak kandunganya. Saat ia ditinggalkan oleh penasehat dan kawan dekatnya. Saat ribuah tentara membelot dan berubah arah loyalitas. Nyawanya sediri terancam dibunuh. Keluarga musuh lamanya mengutuki dan melempari batu serta mengucapkan kalimat yang menyakitkan “Bagimu tidak ada lagi pertolongan dari Allah.”

Bukan hanya itu, Daud akan kehilangan tahta, harta dan nama baik. Ia harus meninggalkan istana, berjalan kaki mencari tempat persembunyian. Saat paling sulit yang pernah dihadapinya. Puncak pergumuan Daud dirangkum dalam kalimat ini.

“Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku;  banyak orang yang berkata tentang aku: "Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah." 

Dalam situasi tersulit itulah Daud membuat keputusan yang tepat. Ia datang kepada Tuhan dengan keyakinan yang kuat.

 “Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus.” 

Saat semua orang menghakiminya, dan semua mata melihat dia dalam kesulitan, raja Daud tidak membiarkan kata orang mendekte keputusan hatinya. Ia tidak membalas kejahatan dan kutukan mereka. Namun Ia langsung menguatkan keyakinannya untuk datang kepada Allah-Nya yang selama ini ia kenal sebagai tempat perlindungan dan batu karang keselamatan. 

Inilah yang harus kita lakukan dalam kehidupan, dalam kesulitan dan pergumulan belajarlah melihat betapa besar kuasa Allah, bukan betapa besar persoalan. Fokus hati kita bukan lagi kepada orang yang memusuhi tetapi Allah yang mengasihi Anda. Ingatlah bahwa kasih Allah itu jauh lebih besar dari pada kebencian dari musuh Anda.  Kasih dan kuasa Allah jauh lebih kuat dari pada seribu musuh yang melontarkan ancaman, kutukan atau ejekan.  Maka jangan heran jika Daud menuliskan Mazmur yang sangat indah ini.

 “Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik. Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, …”

Satu pemikiran pada “SAAT ANDA DITINGGALKAN SENDIRIAN

  1. Terimakasih pak pdt😊😊😊😊. Renungan yang sangat memberkati sya. Renungan ini sangat menguatkan iman sya pak, karena pengalaman pribadi waktu kecil ditinggalkan org tua dan mengalami yg dikisahkan dlm renungan ini. Sungguh Tuhan sangat baik.
    Sekali lagi Terimakasih bapak pdt😇😇😇

Tinggalkan Balasan