Sikap saya terhadap ‘harta benda’ sangat berpengaruh pada hubungan saya dengan sesama. Saat harta menjadi segalanya, manusia bisa memanfaatkan hubungan demi mengeruk kekayaan. Bahkan tega menghalalkan segala macam cara demi memenuhi nafsu serakahnya. Seorang pemimpin yang gila harta, akan memperalat anak buahnya.

Sebaliknya, jika pemimpin menempatkan hubungan manusia menjadi yang utama, dia akan menggunakan hartanya untuk memberdayakan, memperlengkapi dan memberkati sesamanya.


Nabal adalah pengusaha ternak yang arogan dan jahat. Ia tidak peduli dengan yang namanya ‘hubungan’ atau partnership. Ia tidak sadar bahwa keberhasilan dan profit yang didapat melibatkan dukungan dan kebaikan orang lain. Maka seharusnya ia tidak berlaku kasar terhadap orang orang suruhannya Daud yang sedang memerlukan dukungan logistik. Kalimat yang terucap benar benar mencerminkan sikapnya terhadap harta dan kekayaan. Dia tidak menyadari bahwa rejeki dari Tuhan itu datang melalui hubungan.


Orang yang mengagungkan harta bisa tega mengorbankan hubungan pernikahan dan keluarganya. Demi menambah kekayaan ada orang yang menelantarkan emosi istri dan anak anaknya. Mereka pikir, uang adalah segalanya. Pokoknya selama masih ada uang semua akan bisa diselesaikan. Orang macam begini akan ternadung dan jatuh oleh sikap hidupnya sendiri. Sebaiknya belajar dari kisah “Orang Kaya Yang Bodoh’ dalam Kitab Suci. Hidupnya habis untuk mengumpulkan, dan lupa menikmati dan bebagi. Saat mati, ia menguburkan dirinya sendiri.


‘’Dimana hartamu berada disitulah hatimu berada’’. Orang yang gila harta terkadang tidak punya hati untuk sesama, ringkasnya begitu. Bagaimana nasib akhir hidupnya? Jelas, tidak bahagia. Karena sudah terbukti menurut penelitian selama 75 tahun yang dilakukan oleh Harvard University.

Orang yang lebih bahagia, lebih sehat dan umur panjang adalah mereka yang memiliki banyak teman dan pandai menjaga hubungan. Bukan mereka yang banyak harta tetapi tidak punya teman. Anda pilih yang mana? Harta atau hubungan

Tinggalkan Balasan