“Orang yang kikir tergesa- gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.” (Amsal 28:22)


Jangan pernah perpikir untuk menjadi orang kikir, karena saya belum pernah melihat orang kikir bahagia. Sulit tersnyum atau ketawa, karena takut kalau ada yang minta lagi senyumnya. Mengapa tidak bahagia? Karena selalu merasa kekurangan. Orang yang selalu merasa kekurangan akan menemui kesulitan untuk mensyukuri apa yang sudah berada di tangan. Prilakunya cenderung serakah.

Masih ingat waktu masih kecil? Diberi dua permen, minta tiga, sudah punya tiga minta empat. Padahal yang di tangan belum di makan. Ada yang bilang bahwa sifat serakah itu memang bawaan dari lahir, dan paling sulit ditaklukan hingga menuju liang kubur.


Orang kikir akan terus bekerja keras untuk mengumpulkan. Ia terobsesi untuk memiliki lebih, kekurangan dianggapnya sebagai bencana. Meskipun sudah punya tiga rumah, lima mobil, empat isteri, di hatinya masih merasa kurang puas. Persis seperti pemuda yang bodoh yang digambarkan oleh Tuhan Yesus dalam Injil Lukas pasal 12.

Ia membanting tulang, untuk menanam, memanen dan mengumpulkan hasil panen. Setelah itu ia membangun dan memperbesar lumbungnya. Demi mengumpulkan, ia lupa bersosialisasi. Tidak sempat cari isteri, tidak pernah ikut arisan atau kerja bakti. Setelah mati harta yang dikumpulkan menjadi sia sia, harta tanpa tak bertuan. Bukankah lebih baik disalurkan pada Panti Asuhan Mercy Indonesia?


Penyakitnya adalah irihati, tidak siap melihat kelebihan orang lain. Ia akan merasa terancam jika ada yang memiliki lebih. Jika ada tetangga yang dapat rejeki, ia menjadi sakit hati. Kalau ada teman yang menerima berkat ia senang mengosipkan, ‘Dia kaya karena punya thuyul’. Kemudian ia akan mencari cara untuk menciptakan kesan kalau dirinya adalah yang terbaik, terhebat, dan terkaya. Meskipun harus menghalalkan segala macam cara.


Hobinya menghitung rejeki orang lain dan lupa menghitung rejekinya sendiri. Akibatnya tidak pernah merasa cukup dan sulit mensyukuri rejekinya sendiri. Orang seperti ini sangat berbahaya jika dibiarkan berkeliaran di sekitar Anda. Ia bisa mencuri kebahagian dengan mengucapkan kalimat yang berbau provokasi. Ia tidak akan pernah menikmati apa yang dimiliki.

Anehnya, ia juga akan sakit hati jika ada orang lain menikmati rejekinya. Melihat tetangga berpesta ia bilang “keluarga boros”. Menyaksikan tetangganya beramal dianggapnya sok suci. Kalau ada orang memberi untuk orang susah ia justru merasa susah. Orang seperti ini ‘susah lihat orang senang, dan senang melihat orang susah.’. Aneh tapi nyata. Jangan meniru mereka.

Tinggalkan Balasan