Tragedi pembunuhan seroang suami dan anak tiri adalah bukti cinta yang berubah menjadi benci. Benarlan Aulia mencintai suaminya? Atau dia hanya mencintai hartanya? Meski dia mengaku bahwa suaminya tidak lagi mampu menafkahi secara jasmani, haruskan pernikahan berakhir dengan pembunuhan?

Cinta tidak bisa dicampur dengan ‘egoisme’. Cinta sejati tidak pernah mencari keuntungan pribadi. Jika ada seorang istri yang katanya ‘mencintai’ tetapi berani menyakiti gara gara keinginan pribadi tidak dipenuhi, ia tidak sedang mencintai. Cinta tidak memerlukan transaksi. Love always giving. Cinta selalu memberi dan tidak pernah menuntut untuk diberi.

Aulia sempat ‘make love’ sebelum membunuh suaminya. Ia mengatakan kepada penyidik bahwa‘ malam itu suaminya minta jatah untuk berhubungan badan’. Benarkah cinta suka minta jatah? Dapatkah anda mencintai sementara dalam hati tersembunyi niat untuk menghabisi nyawa suami? Inilah cinta salam kepalsuan.

Tragedi pembunuhan seorang suami oleh istrinya sendiri adalah bukti bahwa cinta bisa berubah jadi benci. Atau sejatinya memang Aulia tidak pernah mencintai suaminya. Benarkah alasan ‘terlilit hutant 10 milyar’ yang menjadi motivator utamanya? Orang bijak pernah berkata, ‘jika ada pernikahan tidak bahagia penyebabnya bukan harta, seks atau pihak ketiga, tetapi karena kurang paham tentang arti mencintai.

Kesalah pahaman atau lack of knowlege tentang cinta sering membuat pernikahan tidak bahagia. Mencintai untuk mendapatkan harta bukanlah cinta yang sebenarnya. Mencinai untuk memiliki bukanlah cinta sejati. Karena cinta ilahi adalah cinta yang ingin selalu memberi, membahagiakan dan memaksimalkan potensi pasangan atau orang yang kita cintai. Inikah kualitas cinta yang anda miliki untuk pasangan anda? Jika tidak atau belum, belajarlah mencintai seperti Allah mengasihi umat-Nya

Orang bijak pernah berkata, ‘jika ada pernikahan tidak bahagia penyebabnya bukan harta, seks atau pihak ketiga, tetapi karena kurang paham tentang arti mencintai.

Tinggalkan Balasan