Anda akan kesulitan mencintai jika tidak pernah menghargai. Tanpa penghargaan, cinta hanyalah sebatas ucapan, dan tidak akan pernah ada tindakan. Belajarlah dari apa yang Yesus lakukan dalam keseharian. Mengapa Ia mau berlayar bertaruh nyawa ke dusun Gerasa hanya demi satu orang gila? Bagi Yesus, satu jiwa itu sangat berharga. Mengapa Ia mau singgah di sebuah sumur bangsa Samaria yang dianggap najis demi seorang wanita? Karena bagi Yesus jiwa ‘najis’ juga sangat berharga.

Satu Jiwa Berharga di Mata Allah

Allah adalah kasih, dan barang siapa yang mengaku sebagai ‘Hamba Allah’ hidup harus dijiwai oleh cinta kasih. Kasih selalu menuntut tindakan nyata bukan sekedar wacana. Kasih tidak memandang rupa, strata, harta, permata atau tahta. Kasih sejati dilandasi oleh penghargaan terhadap ‘jiwa’ yang pemberian Allah dari sorga. Itulah sebabnya melayani Allah tanpa diawali dengan penghargaan terhadap jiwa jiwa, tidak akan pernah melahirkan pelayanan yang murni.

Inti Sari Pelayanan Adalah Memberi

Apa yang anda lihat saat berjumpa dengan tetangga? Merk mobil, penampilan, gelar atau perhiasan mereka? Jika motivasi pelayanan didekte oleh apa yang bisa menguntungkan, anda tersesat di jalan panggilan. Pelayanan bukan tempat yang baik buat mereka yang mau mengeruk keuntungan. Inti sari melayani adalah memberi. “To serve is to give” Sebaiknya merenung dan menilik hati dengan jujur. Jika anda melihat jiwa jiwa sebagai ‘alat’ bukan sebagai pribadi yang dihargai Allah, bertobatlah. Jangan sampai anda terperangkap dalam lagu “mencari domba yang lezat, itulah kerinduan jiwaku”.

Memiliki Kaca Mata Ilahi

Marilah kita melihat jiwa sebagaimana Yesus melihatnya. Saat ia melihat orang banyak yang lapar Ia melihatnya sebagai ‘domba yang tidak bergembala”. Saat Ia bertanya kepada Petrus ‘apakah kamu mengasihi aku?’ Ia melanjutkan “gembalakanlah domba domba-Ku”. Jiwa manusia begitu berharga, maka jangan heran jika Allah merelakan anak-Nya yang tunggal untuk menebus kembali jiwa jiwa yang terancam hukuman dosa. Penghargaan atas jiwa itulah yang membuat Allah turun sendiri ke dalam dunia “Karena begitu besar kasih Allah akan ‘jiwa manusia’ maka diberikannya anak-Nya yang tunggal”

Cara Terbaik Melayani Allah Adalah Melayani Sesama

Cintamu kepada Allah sebaiknya dinyatakan dalam cinta pada sesama. Penghargaanmu kepada Allah, baru bisa dilihat saat kita bisa menghargai sesama manusia tanpa memandang agama, suku dan bangsa. Itulah sebabnya cara terbaik melayani Allah adalah dengan melayani sesama. Mudeng? Jangan bilang mencintai jika tidak menghargai. Jangan berseru ‘aku mengasihi Allah. Jika tidak menunjukan bukti bahwa Anda mengasihi ciptaan Allah’

Tinggalkan Balasan