Orang yang tidak mampu mengalahkan sifat serakah akan menghadapi masalah. Waspadai hati manusia, hati ini begitu licik, sangking liciknya sampai kita tidak mengetahui kalau sedang tertipu oleh kelicikan diri sendiri. Terkadang manausia membenarkan prilaku yang jelas jelas melawan kebenaran. Ada pula yang mengatas-namakan Tuhan untuk memupuk kekayaaan atau demi ketenaran. Dalam renungan ini kita akan belajar dari kesalahan seorang pelayan yang bernama Gehazi, kesalahannya membawa malapetakan dalam hidupnya.


WASPADAI MOTIVASI ANDA

Gehasi tergiur dengan persembahan yang dibawa oleh panglima Naaman. Jumlahnya tidak tanggung tanggung, kalau diuangkan melebihi 1 milyar. Namun nabi Eliza menolaknya dan sama sekali tidak mau menerima satu senpun. Melihat itu mata dan nafsu serakah sang pelayan langsung menguasai hatinya. Maka dengan diam diam dia mengejar rombongan Naaman untuk menerima persembahan. Motivasi utama untuk mendapatkan, dengan memakai kalimat “Demi Tuhan yang hidup”


Gehazi pelayan Elisa, berpikir, “Ah, kenapa ia dibiarkan pergi tanpa membayar? Seharusnya tuan saya menerima pemberian orang Siria itu! Demi TUHAN yang hidup, saya harus mengejar dia dan mendapat sesuatu dari dia!” (2 Kings 5:20-21)

Waspadai kata kata “Demi Tuhan, Atas nama Tuhan, atau atas nama pekerjaan Tuhan” tetapi sebenarnya bukan untuk memuliakan nama Tuhan. Kita semua bia terjebak dalam hal ini. Memperalat nama Tuhan untuk mengeruk kekayan atau mendapat kedudukan. Sudah banyak yang terjebak dalam hal ini dan harus berurusan dengan hukum.

WASPADAI UCAPAN ANDA

Gehazi benar benar keterlaluan, dia memakai alasan yang mengada ada untuk mendapatkan keuntungan. Dengan mengatas-namakan “kebutuhan orang lain” untuk memenuhi “kebutuhan diri sendiri”. Menggunakan kemiskinan orang lain untuk mendapat kekayaan. Sekali lagi, keserakahan seringkali tidak peduli dengan etika atau azas kepantasan.


Gehazi menjawab, “Maaf Tuan, saya disuruh mengatakan kepada Tuan bahwa baru saja dua nabi muda datang dari daerah pegunungan Efraim. Tuan saya minta supaya Tuan memberikan 3.000 uang perak dan dua setel pakaian yang bagus untuk kedua nabi itu.” (2 Raja Raja 5:22)


SERAKAH SERING BERSAHABAT DENGAN DUSTA

Korupsi seringkali bersahabat dengan manipulasi. Orang serakah sering menghalalkan dusta, meski dibungus dengan kesalehan atau berpura pura atas nama kebaikan. Gehazi tidak menyadari adanya OTP (Operasi Tangkap Tangan) yang langsung dilakukan oleh nabi Elisa. Dia tidak Tahu bahwa Allah Maha Tahu. Sepandai pandainya manusia berdusta, semua akan disingkapkan oleh Tuhan. Peringatan buat kita semua, jangan pernah berpikir bahwa Allah tidak tahu dengan prilaku kita. Sepandai pandainya anda menyimpan dosa, sebentar lagi Allah akan menyigkapkannya.


Setelah sampai di bukit tempat tinggal Elisa, Gehazi mengambil uang dan pakaian itu dari pelayan-pelayan Naaman, kemudian menyimpannya di dalam rumah. Pelayan-pelayan itu disuruhnya pulang, lalu ia masuk kembali ke dalam rumah. Elisa bertanya, “Kau dari mana?” “Tidak dari mana-mana, Tuan!” jawabnya. (2 Raja Raja 5:24-25)


SERAKAH MENDATANGKAN MUSIBAH

Gehazi menderita penyakit kusta karena dusta. Sifat serakah itu menuai musibah. Dan yang menderita bukan hanya dia sendiri, tetapi keturunannya juga ikut terkena getahnya. Waspadai prilaku hidup ini. Jangan sampai kecerobohan dalam prilaku membuat masalah bagi anak cucu. Saya tidak ingin anak cucu saya membawa beban “keturunan koruptor” atau “Anak cucu tukang selingkuh”.


Tetapi Elisa berkata, “Hati saya ada di sana ketika Naaman turun dari keretanya untuk menemui engkau. Ini bukan waktunya untuk mendapat uang dan membeli kebun zaitun, kebun anggur, domba dan sapi serta hamba-hamba! Karena kau menerima pemberian itu, kau akan menerima juga penyakit Naaman. Bahkan untuk selama-lamanya keturunanmu pun akan mendapat penyakit itu!” Ketika Gehazi keluar dari situ, ia mendapat penyakit kulit–kulitnya menjadi putih sekali. (2 Raja Raja 5:26-27)

Tinggalkan Balasan