Salah satu perintah Allah yang paling sulit adalah ‘kasihilah musuhmu’. Mengapa sulit, karena naluri manusia itu ‘gigi ganti gigi dan mata ganti mata.’ Siapa yang mau memberikan pipi kiri setelah pipi kanan ditaboki orang? Siapa yang bersedia memberi makan tukang fitnah yang kelaparan? Mulut kita ini begitu mudah ‘nyukurin’ orang brengsek yang sedang ditimpa kemalangan. Bisakah Anda melipat tangan dan mengucapkan kata berkat untuk pria yang sudah mengkhianati cinta kita? Seribu satu, jujur saja!

Mengapa mengasihi musuh itu sulit? Karena terkadang mereka itu ada di sekitar kita, makan sepiring berdua dan tidur satu ranjang dengan kita. Menurut bahasa asli, kata musuh (ekhtros) mencakup tiga golongan; pertama adalah mereka yang membeci kita. Kedua, mereka yang syirik dan ketiga, mereka yang bikin susah hidup kita. Nah, mereka ini tidak mesti datang dari seberang atau alien dari planet Pluto. Orang orang yang membenci atau bikin kesel hati itu bisa pasangan hidup, karyawan, teman sepelayanan, mertua ataua tetangga depan rumah. Mereka termasuk orang orang dekat, orang yang kita kasihi. Makanya kita diminta untuk mengasihi ‘musuh’ kita.

Mampukah Anda memaafkan mereka yang memfitnah dan bikin susah kekuarga Anda? Jawabanya ‘pasti bisa’. Kalau Tuhan memerintahkan, Dia pula yang akan memampukan kita menjalankannya. Bukan hanya itu, Ia juga memberikan telandan dalam perbuatan. Saat Ia dihina, diludahi, dimaki maki, dikhianati, dicambuk 39 kali bahkan dipaku di tiang gantungan, Ia tidak mengutuki dan mengucapkan sumpah serapah. Yang terucap di atas kayu salib adalah “Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Bukankah Ia punya kemampuan untuk mendatangkan api dari langit dan menghanguskan tubuh mereka? Bukahkah Ia bisa mendatangkan gempa dan membelah bumi serta menelan tubuh mereka hidup hidup seperti Yanes dan Yambres?

Kalau mengasihi musuh itu sulit, mengapa diamanahkan? Karena ternyata yang sulit sulit itu bonusnya istimewa. Berbuat baik pada orang baik itu mudah. Membalas kejahatan dengan kejahatan itu sudah lumrah. Tetapi membalas kebaikan kepada musuh adalah sebuah prestasi hidup yang luar biasa. Di sinilah kwalitas karakter ilahi dalam diri sedang diuji. Sehingga dunia akan tahu bahwa “kamu adalah anak anak Allah” yang berkemurahan hati. Mampu mengasihi musuh itu saja sudah membanggakan apalagi diberi bonus sorgawi.

Bonus utama yang akan diterima adalah ‘damai sejahtera yang melampaui segala akal’. Jika kita bisa mengasihi semua musuh maka habislah semua permusuhan. Hasil akhirnya adalah tidur nyenyak dan ketenangan pikiran serta umur panjang. Bukankah Allah juga telah memberikan kita kemampuan untuk mengatasi musuh seperti tersurat dalam firman-Nya

“Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.” Bible

2 pemikiran pada “SULITNYA MENGASIHI MUSUH

  1. Terima kasih renungan ini menguatkan saya….saya tidak bisa mmbnci bapa yg hampir mmbunuh dan menyiksa saya dan saudara di masa kecil tpi saat di masa kami smua berkeluarg bpa beruba dan kami bahagia sekali merasakan cint seorang bapa kepd anakny dan teman saya yg bertahun2 menyakiti saya tpi sampai saat ini saya msi bertman dgnnya seakan tdk ad mslh Apakah saya hrs mmbnci, menjauhi serpti kata teman yg lain….di saat hati bertny mengapa hati kmbli mnjawab pembalasan itu adla hak Ku. Mengasihi musuh Tuhan Yesus dpt mengubahnya menjadi berkat asal kota percaya.mks

Tinggalkan Balasan