Gideon mengalami ‘mental distortion’ yang cukup parah. Gara gara kesulitan hidup yang berlarut larut, citra dirinya jadi carut marut. Hidup susah, sering pindah pindah, tiap hari berhadapan dengan musibah. Dalam keadaan putus harapan, Gideon bertanya dimana semua pertolongan Allah, kemana larinya semua cerita keajaiban?” Seolah ia sedang berkata “God is silence, He is dead”. Mengapa Allah diam, mungkin Allah sudah mati.

Gideon salah menilai. Dia pikir Allah itu seperti tukang jam. Setelah menciptakan dunia kemudian membiarkannya. Akibat salah konsep, ia menderita rasa takut yang akut. Saat kecemasan dibiarkan terlalu lama, pikiran akan menderita. Sebentar lagi lahir ‘cara pandang’ yang negatif terhadap kenyataan. Kualitas hidup ditentukan oleh kualitas iman dan harapan. Gagal berharap berakibat gagal bahagia.

Baca firman dan yakini kebenaran. Mana mungkin Allah berlaku seperti pembuat jam tangan? Diciptakan kemudian dibiarkan berputar sendiri. Setelah Ia menciptakan manusia, Ia berusaha menyertai Adam dan Hawa. Saat manusia jatuh dalam dosa dan menyadari ketelanjangannya, Allah membuat pakaian dari kulit domba. Demi menolong umat manusia, Ia rela turun ke dunia menjadi manusia, mati disalib dan berjanji untuk membawa kita kembali ke rumah-Nya.

Allah bukan tukang jam, tetapi Bapa yang maha baik. Ia berjanji menyertai kita dalam segala pancaroba. Ia memberikan kuasa darah-Nya untuk melawan si jahat dan segala kelemahan. Ia mengirim Roh Kudusnya untuk menjadi pendamping supaya tidak salah membuat keputusan. Hadirat-Nya selalu tersedia bagi kita semua. Fakta bahwa hidup penuh dengan tantangan, tidak pernah mengubah kasih dan perhatian-Nya bagi kita semua. Berserahlah dan hidup dalam anugerah. Amen

Tinggalkan Balasan