Soal memilih teman hidup jangan asal asalan atau main main. Memilih isteri itu tidak sama dengan beli sandal jepit. Dicoba dulu sebelum dibeli. Kalau tidak nyaman dipakai langsung diganti. 

Tingginya angka perceraian di negeri ini karena perspektif yang salah dalam memasuki pernikahan. Tidak heran kalau banyak rumah tangga yang hancur berantakan. Memang ada yang menikah demi uang, status, seks atau untuk menyenangkan orang tua. Kualitas penikahan sangat dipengaruhi oleh pemaham yang melandasi pernikahan itu sendiri.

Pernikahan yang semata mata dilandasi boleh cinta pada pasangan, biasanya tidak bertahan lama. Lantaran pasangan yang kita cintai itu manusia biasa yang mudah berubah. Hari ini mengucapkan janji setia, besok sudah mengingkarinya. Makanya Broery pernah bilang “Kau yang selama ini aku sayangi, Kau mengubah cintaku jadi benci.” Tanya saja pada Betharia yang pernah minta “Pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku”. Mereka semua adalah korban pemahaman yang salah.

Pernikahan yang bahagia dan berumur pajang dilandaskan atas cinta kepada Allah dan firman-Nya. Selain cinta, ada tiga hal yang akan memperkokoh bangunan rumah tangga, hikmat, pengertian dan pengetahuan. 

Allah yang mendesain pernikahan, dengan maksud mulia supaya menjadi gambaran hubungan antara gereja dan Yesus Kristus. Untuk mengetahui tujuan mula mula dari pernikahan lihat saja sabda-Nya. Biasanya mereka yang takut akan Tuhan dan firman-Nya, pernikahannya akan langgeng dan bahagia.

“Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan- Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak- anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki- laki yang takut akan TUHAN.” Maz. 128:1-4

Satu pemikiran pada “MENGAPA BANYAK PERCERAIAN

Tinggalkan Balasan