Janda Sarfat itu sudah berani menuduh tanpa pikir panjang. Ia bilang jika kehadiran sang nabi adalah penyebab kematian anak satu satunya. Kelewat batas dan terburu buru. Pikiran ‘cupet’ macam begini yang sering bikin mulut mudah menghakimi orang tanpa lihat latar belakang. Ia tidak sadar jika sedang menderita ‘mental distortion’. Semua serba negatif, serba salah dan pesimis

Janda Sarfat tidak pernah menyangka jika apa yang dianggap sebagai masalah justru menjadi jawaban. Ia tidak tahu bahwa nabi Elia hadir di rumahnya justru untuk membangkitkan nyawa anaknya dari kematian. Makanya jangan terlalu cepat memberikan penghakiman terhadap persoalan. Kesulitan itu selalu memberikan pembelajaran. Masalah sering berubah jadi berkah, semua tergantung dari sudut mana kita memandang.

Makanya jangan selalu pakai kacamata negatif. Sudah saatnya ganti lensa. Coba tafsirkan setiap kenyataan dengan kebenaran kekal yaitu Firman Allah. Bukan dengan kemarahan atau perasaan. Bukan juga dengan apa kata orang, tetapi apa kata Tuhan. Firman Tuhan tidak pernah salah menafsirkan realita.

Orang bisa bilang jika kesulitan dan petaka yang menimpa Ayub itu akibat dosa. Barang siapa menabur angin, ia akan menuai badai. Tetapi ternyata mereka salah ‘menghakimi’. Keterlaluan! Bildad, Sofar dan Elifas harus berurusan dengan TUHAN untuk mempertanggung jawabkan perkataannya. Makanya jangan tergesa gesa mengadili kenyataan. Siapa tahu, apa yang Anda anggap sebagai persoalan justru menjadj jawaban yang selama ini Anda nantikan.

Banyak orang menganggap AHOK sebagai persoalan, tetapi bagi pak presiden Djokowi, Ahok adalah jawaban atas semua persoalan PETAMINA. Makanya dia dipercaya untuk mengurus BUMN pengasil keuangan negara. Lihatlah persoalan dari terang Firman Tuhan. Ijinkan Allah menggunakan persoalanmu untuk menjawab persoalan hidupmu.

Tinggalkan Balasan