Salah satu berkat yang saya dapat dalam pelayanan misi adalah bertemu hamba-hamba Tuhan yang setia. Perjalanan kami dalam rangka membedah gereja gereja pedesaan membuka mata jiwa, betapa luar biasa kehidupan para pahlawan iman di pedesaan. Dalam segala keterbatasan masih semangat melayani tanpa keluhan dan penyesalan.

Pdt. Otniel yang menggembalakan jemaat GBI di Amanuban Selatan, termasuk hamba Allah yang luar biasa. Saat masuk ke rumahnya, hatiku tersentak, air mata tak terbendung. Mataku melihat sekeliling dan kutemukan rumah berdinding pelepah lontar sudah miring, berlubang dimakan rayap dan sebentar lagi ambruk. Atap daun lontar sudah banyak yang berlubang. Ia dan keluarga tidur di atas dipan bambu tanpa kasur. Hanya beralaskan tikar. Semua serba memperihatinkan.

Dengan sopan akupun bertanya, sudah berapa lama tidur di rumah seperti ini? “Lema belas tahun” jawabnya dengan senyum. Akupun pingin tahu “Berapa uang persembahan dan perpuluhan tiap hari minggu?” Dengan nada datar, ia menjawab “Kalau ada, paling banyak 20.00, itu kalah ada pak.” Dadaku terasa sesak. Akupun diam sejenak. Pikiranku sulit membayangkan apa yang baru kudengar. Dengan sedikit pingin tahu, kulanjutkan pertanyaan, “Bagaimana bapak bisa bertahan dalam pelayanan dengan persembahan yang sedikit?” Dengan menatap ke arah hutan hamba Allah ini menjawab “Tiap hari kami mencari kayu bakar untuk bertahan hidup.”

Aku tidak bisa menahan aliran air mata. Bahkan saat aku menulis renungan ini air mataku juga menetes. Betapa luar biasa pengorbanan hidup hamba Tuhan ini. Saat pulang kembali ke Soe, aku berdoa “Bapa apa yang bisa kami buat untuk pak Otniel sekeluarga? Selain membedah gerejanya aku rindu membangun rumah buat hamba Tuhan yang rendah hati dan setia ini.

Untuk pak Otniel, bapak tidak tahu bahwa pertemuan kita telah memberi makna yang dalam bagi kehidupan iman, kesetiaan dan pengorbanan. Tidak semua orang bisa bertahan seperti bapak. Dari bapak aku belajar, melayani adalah memberi, mengasihi dan berkorban. Kesetiaan bapak adalah warisan yang mahal bagi anak cucu. Doakan ya pak, Mercy Peduli terbeban untuk membangun rumah bagi bapak sekeluarga. Sampai jumpa di acara peresmin gedung gereja bapak di bulan Juli. Dan dengan iman kita akan meletakan batu pertama buat pembangunan rumah bapak.

Bagi sahabat yang rindu untuk menabur untuk menolong para hamba Tuhan yang hidup dalam keterbatasan, jangan sungkan sungkan mengukurkan tangan. Firman Tuhan berkata “Jangan pernah menahan kebaikan untuk mereka yang berhak menerima”

Satu pemikiran pada “TAAT DALAM PENDERITAAN

  1. Khotbah yang sangat memberkati minta tolong bisakah transkrip khotbah yg lengkap. utk jadi pedoman bagi kami yg baru belajar menyusun khotbah 🙏🙏

Tinggalkan Balasan ke Hermina Loyang Batalkan balasan