Saya sudah lupa nomer penerbangannya tetapi masih ingat tujuan akhir perjalanan. Ini adalah penerbangan yang paling istimewa. Penerbangan yang memberi pencerahan hati. Sekolah kehidupan yang tidak akan pernah terlupakan. Dari Sorong menuju Denpasar transit di Makasar.

Tidak ada yang aneh pagi itu, semua nampak biasa, normal dan apa adanya. Ada yang main game, nonton televisi, bercanda dengan keluarga, dan membaca koran. Namanya juga ruang tunggu, orang bisa melakukan apa saja untuk membunuh waktu.


Tetapi ada yang sedikit istimewa dengan wanita paroh baya yang duduk di depan saya. Ia bicara di telpon cukup lama, entah siapa yang diajak biacara. Yang jelas saya mendengar ia berpesan kepada anak anaknya sekalgus berjanji untuk membelikan oleh oleh dari Jakarta. Percakapan telpon baru berhenti setelah mendengar panggilan boarding.


Lima belas menit setelah tinggal landas suasana di dalam pesawat sedikit gaduh. Ada yang menyebut nama Allah, ada juga yang menyebut Yesus. Beberapa penumpang ada yang berteriak. Saya mengencangkan sabuk pengaman sembari menyebut nama Tuhan. Di sebelah kanan terdengar suara aneh. Sambil memegang dadanya wanita itu mencoba menahan sakit. Beberapa kali mengambil nafas panjang.

“Pesawat memasuki cuaca buruk, segera mengencangkan sabuk pengaman” kata pramugari. Lima menit kemudian suasana sudah mulai tenang. Namun wanita di sebelah kanan itu tubuhnya tergolek lemas tak bertenaga. Wajahnya pucat, tubuhnya lemas. Saya berdiri dan menumpangkan tangan sambil berdoa. Ternyata dia sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Semua berlalu begitu cepat.


Pramugari bertanya dari pengeras suara “Apakah ada di antara penumpang yang berprofesi sebagai dokter atau ahli medis?” Tidak ada jawaban. Semua terdiam. Setelah sepuluh menit berlalu, seorang pramugari mendekati saya “Apakah bapak seorang pendeta, tolong memimpin kami dalam doa menyerahkan nyawa ibu Maria kepada yang Maha Kuasa,” ucapnya sambil menyerahkan pengeras suara megaphone.


Ini kesempatan istimewa. Saya mengambil waktu untuk bicara tentang hidup dan mati. Memberitakan Kabar Baik di dalam pesawat.


“Sebelum kita berdoa menyerahkan nyawa ibu Maria kepada sang Pencipta, ijinkan saya berbicara. Hidup dan mati kita ada di Tuhan yang Maha Kuasa. Bukan kebetulan hari ini kita menyaksikan kepergian ibu Maria. Hari ini ia sudah menghadap kepada pencipta-Nya. Kita semua sedang menunggu giliran. Hidup ini hanya sementara, dunia hanyalah tempat transit, mari kita menghidupi hidup ini dengan bahagia mati secara mulia. Bagi yang masih bingung setelah mati akan kemana, jangan takut. Nabi Isa Almasih pernah mengatakan “Akulah jalan kebebaran dan hidup” Dia datang dari surga, makanya dia tahu jalan ke surga.” Kemudian saya berdoa untuk menyerahkan arwah ibu Maria.


Ada suara tangis, ada kalimat doa. Saya tediam merenung sepanjang sisa perjalanan. Mengapa saya masih diberi hidup? Rencana-Nya belum selesai. Masih ada banyak tugas yang belum tuntas. Masih banyak anak yatim yang perlu santunan. Masih ada jutaan jiwa yang perlu mendengar jalan kebenaran dan kehidupan. Masih banyak sahabat yang perlu mendapat pencerahan dari tulisan ini. Semoga terinspirasi. Mengapa anda masih diberi hidup? Segera temukan jawabannya.

Tinggalkan Balasan