Tidak ada yang pernah menyangka jika bayi malang yang terancam kematian akhirnya bisa menjadi ‘juru selamat’ bagi bangsanya. Bayi mungil yang masih berumur tiga bulan itu akhirnya dihanyutkan setelah disembunyikan selama beberapa bulan. Putra Amram dan Yokebed lahir ditengah penolakan, ancaman dan permusuhan.

Namun rencana Allah tidak bisa dibatalkan oleh kejahatan manusia. Fatwa Raja Firaun mewajibkan semua bayi laki laki harus dibinasakan. Kata raja Mesir, “Pada waktu kamu menolong wanita Ibrani bersalin, ingatlah ini: Kalau anak yang lahir itu laki-laki, bunuhlah dia! Kalau anak yang lahir itu perempuan, biarkan ia hidup.”

Karena ‘belas kasihan’ sang bidan, bayi tanpa nama itu dibiarkan lahir ke dalam dunia yang penuh dengan kebencian, penindasan serta kesengsaraan. Nampaknya para bidan lebih takut kepada suara hati nurani daripada suara penguasa. Belas kasihan telah membuat para bidan tidak tega membunuh bayi laki laki yang dinamakan Musa. Tetapi kedua bidan itu orang yang takut kepada Allah. Mereka tidak mau melakukan perintah raja dan membiarkan semua bayi laki-laki hidup. Maka raja memanggil kedua bidan itu dan bertanya, “Mengapa kamu membiarkan anak-anak lelaki hidup?” Jawab mereka, “Wanita Ibrani tidak seperti wanita Mesir. Mereka gampang sekali melahirkan. Sebelum bidan datang, anaknya sudah lahir.

Nampaknya Allah memperhitungkan belas kasihan para bidan dengan memberkati mereka. “Maka Allah memberkati bidan-bidan itu dan memberi keturunan kepada mereka, karena mereka menghormati Allah. Dan orang Israel pun bertambah banyak dan kuat.’

Tiga bulan berlalu, dan bayi itu belum diberi nama. Entah mengapa Abi Amram dan Umi Yokebed tidak segera memberi nama putranya, mungkin karena hati yang galau karena sebentar lagi akan berpisah dengan putranya. Lihatlah raut muka sang ibu saat membuat keranjang dari gelagah. Keceriaan itu berubah menjadi rasa duka, sebentar lagi bayi itu harus dihanyutkan di sungai yang dihuni oleh ular berbisa dan buaya. Mungkin Yokebed meneteskan airmata saatm melepas bayinya hanyut dalam keranjang. Namun berkat keyakinan kuat dan hikmat yang cemerlang, bayi itu dihanyutkan dari lokasi yang strategis dan waktu yang tepat. Di tempat itulah putri putri kerajaan sering mandi dan bermain. Di tempat inilah cerita keajaiban hidup sang bayi dimulai.

Tangisan bayi itu mengundang belas kasihan sang puteri raja. Tanpa pikir panjang, bayi mungil itupun diboyong ke istana. Padahal sang putri tahu perintah raja bahwa semua bayi laki laki Ibrani harus dibinasakan. Namun belas kasihan itu berbuntut keajaiban demi keajaiban. Bayi itu kemudian dinamakan Musa yang artinya diangkat dari air.

Yang mengherankan adalah ia disusui oleh ibunya sendiri berkat keahlian kakak kandungnya. ‘’Waktu bayi itu sudah agak besar, ibunya menyerahkan dia kepada putri raja. Lalu putri raja menjadikan bayi itu anak angkatnya. “Dia kuberi nama Musa, sebab kuambil dia dari air,” kata putri raja.

Secuil kisah kejaiban yang baru kita baca merupakan kisah belas kasihan. Kita tidak pernah menyangka bahwa rasa belas kasihan bisa menyelamatkan nyawa, mendatangkan berkat, dan mengubah sejarah sebuah bangsa. Para bidan tidak pernah menyangka jika bayi yang dilahirkan akan menjadi anak angkat raja. Amran dan Yokebeb tidak pernah tahu jika keranjang gelagah itu akan mengantarkan putranya ke istana. Putri Firaun juga tidak pernah berpikir bahwa putra angkatnya akan menjadi seorang pemimpin besar yang akan memberkati dunia. Nabi Musa menjadi salah satu nabi besar dalam tiga agama. Kisah hidup dan kepemimpinannya telah menginspirasi jutaan umat lintas agama.

Mari kita tumbuhkan rasa belas kasihan dalam hati. Keluar dari rumah langkahkan kaki, temui anak manusia yang memerlukan belas kasihan. Ulurkan tangan lakukanlah kebaikan atas bama belas kasihan. Dan lihatlah senyum diwajah mereka, setelah itu jangan kaget jika sorga juga tersenyum kepada Anda. Dimana ada belas kasihan, disana ada sukacita.

Tinggalkan Balasan