Berbagai musim telah kita lalui bersama, Ayah… Waktu kau kuat, waktu kau lemah.. Waktu kau sehat, waktu kau sakit… Waktu kau mampu membelikan kami makan Pizza Hut, dan waktu kau harus membuka celenganku untuk beli beras.

Musim-musim ini terus berganti. Kau melaluinya dengan penuh syukur. Setiap pagi yang kau lakukan sama… Di meja makan membaca firman sambil berdoa. 

Teringat momen haru bagiku, waktu diam-diam aku melihatmu terbaring di sofa 5 menit sebelum kotbah. “Siapa yang kotbah hari ini?” aku bertanya pada Mama… “Harusnya Papa…” . 

Aku hanya bisa memandangmu dari balik jendela. Tak ku sangka engkau terlalu lemah untuk berdiri di mimbar… Kanker yang menggerogoti tubuhmu melumpuhkanmu, walau selama pengobatan tak pernah kulihat sedetikpun patah semangatmu.

Ayah..

Engkau tak pernah tunjukkan kekuatiranmu, namun waktu kau mengambil gitar dan bernyanyi di ruang tamu.. Aku tau lagumu menyiratkan sesuatu. Kau tak pernah bilang lelah, atau kecewa… Kau hanya bisa bilang, “Papa serahkan anak-anak Papa dalam tangan Tuhan.. ” Karena sudah terbiasa. Terbiasa menanggung beban bersama Tuhan. Dialah tumpuan hidupmu. Harapanmu. Dan Tujuanmu.

Kami bangga punya Ayah sepertimu… Imanmu menginspirasi dan menguatkan kami, anak-anakmu. Terimakasih sudah menjadi ayah yang sabar dan lucu.

Kelak akan kuceritakan betapa hebatnya engkau pada cucu cucu mu. Seorang pemimpin yang rendah hati, yg selalu bergantung padaNya. Semoga anak-anakku mendapatkan ayah sepertimu. Love you dad.

Happy Fathers Day!!

Best Regards,

Debora Wisye Wiratno (Anak Pertama)

Satu pemikiran pada “SURAT UNTUK AYAHKU

  1. Sangat terharu dan rasanya tak tegah untuk membacakan artikel ini. Saya merasa bersalah ketika tidak menepati janjinya ayah dan ibuku. Waktu aku masih dirana perjuangan mereka telah menghempuskan nyawanya. Tinggal cerita. Semoga mereka sehat² dialam sana. Terimakasih pak pendeta untuk motivasi melalui artikel ini. Saya terharu 😭

Tinggalkan Balasan