“Bekerjalah dengan rajin. Jangan malas. Bekerjalah untuk Tuhan dengan semangat dari Roh Allah.” (Roma 12:11)

Sikap rajin adalah anugerah Allah, kemalasan berlawanan dengan kehendak Allah. Bekerja dengan rajin adalah perintah Allah. Kata rajin, dalam bahasa lain adalah “Not slothful in business” tidak lamban, malas, atau suka menunda pekerjaan. Mereka yang malas nasib hidupnya sudah pasti “akan jatuh miskin”. Jadi miskin adalah pilihan sikap bukan takdir dari Allah.

“Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak” kata kitab Amsal. Maka jangan heran jika pernikahan bisa rusak gara gara suami atau istri yang malas. Bukan hanya itu, orang malas tidak akan mendapatkan apa apa dalam hidupmya. “Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga.” (Amsal 12:27)

Tangan yang rajin akan menghasilkan kelimpahan. Nasib orang rajin tidak akan kesulitan menghadapi kehidupan. Di tangan orang rajin sampah bisa menjadi berkah, kesulitan menjadi kesempatan dan masalah bisa memberikan nilai tambah. Berbahagialah yang sampai hari ini masih memakai ‘’sikap rajin’’ sebagai baju kehidupan.

Saat orang rajin makan dengan kenyang, orang malas hanya dikenyanagkan oleh keinginan. Bagaimana mungkin bisa kenyang dengan makanan, kalau menyendok malakanan saja tidak bersedia. Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan. (Amsal 13:14)

Jika anda pingin tahu tanda tanda kemalasan bacalah ayat ini berkali kali “Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring”—maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.’’ (Amsal 6:9-11)

Tuhan ingin kita menjadi maksimal dalam hidup ini. Mengoptimalkan karunia, talenta, energi, waktu dan pikiran untuk kemuliaan Tuhan adalah ibadah yang sejati. Maka bekerjalan dengan rajin, sadarilah mungkin hari ini adalah hari terakhir kita bekerja. Berikan yang terbaik. Lakukan yang terbaik seolah olah untuk Tuhan. Itulah ibadahmu yang sejati. Kerja adalah ibadah, bukan hanya datang ke gereja pada hari Minggu.

“So here’s what I want you to do, God helping you: Take your everyday, ordinary life—your sleeping, eating, going-to-work, and walking-around life—and place it before God as an offering. Embracing what God does for you is the best thing you can do for him. Don’t become so well-adjusted to your culture that you fit into it without even thinking. Instead, fix your attention on God. You’ll be changed from the inside out. Readily recognize what he wants from you, and quickly respond to it. Unlike the culture around you, always dragging you down to its level of immaturity, God brings the best out of you, develops well-formed maturity in you.” (Roma 12:1-2 The Messege

Tinggalkan Balasan