“Di dalam jiwa yang sehat terdapat semangat, harapan dan gairah hidup”

Jiwa yang utuh merupakan kesatuan pikiran, kehendak dan perasaan. Namun saat kehendak dengan pikiran tidak selaras, jiwa mengalami dislokasi dan perlu segera dibawa ke sangkalputung. Dislokasi jiwa alias kesleo itu melemahkan. Saat tangan kesleo, kekuatannya berkurang. Demikian juga dengan jiwa. Jika dibiarkan terlalu lama, bisa bisa jadi lumpuh.

Masalahnya, banyak diantara kita tidak sadar jika sedang mengalami ‘sakit jiwa’. Jelas jelas hidup dalam kebohongan, dusta dan kepura puraan, namun kita menganggapnya sebagai ‘gaya hidup alternatif’. Bagaimana kita bisa mendekteksi keadaan jiwa yang tidak sehat? Gampang, ikuti saja ‘test luar dalam’. Apakah yang terucap keluar sama dengan yang ada dalam hati? Apakah yang kita lakukan selaras dengan kehendak jiwa?

Jika hidup ‘bagaikam kuburan yang dilabur putih’, maka jiwa ini sedang dalam keadaan ‘gawat darurat’, maka segeralah masuk ruang ICU. Rasa bersalah, mudah putus asa, amarah, sok rohani, merasa selalu benar adalah gejala kasad mata atas jiwa yang terluka. Waspadai kebiasaan ‘merohanikan’ segala keadaan. Begitu mudah menyalahkan keadaan dan mengkambing hitamkan setan. Padahal sudah jelas kitalah yang membiarkan kesalahan.

Dosa tidak bisa dilupakan, kesalahan tidak bisa dibiarkan, kebohongan harus diakui dan tidak dijadikan kebiasaan. Berhenti berpura pura rohani demi menutupi lapar jati diri. Jujurlah dengan Allah dan diri sendiri. Kembalikanlah perasaan, pikiran dan kehendak dalam kesatuan. Dan rasakan damai sejahtera yang melampaui segala akal memerintah jiwamu. Masih belum sanggup? Datangkan kepada Allah dan akui segala kesalahan, mohonlah pengampunan. Ia yang setia dan adil akan segera menyegarkan jiwamu.

Tinggalkan Balasan